CERPEN
Pertanyaan Terakhir
Oleh: Suyadi
“Tanggal berapa sekarang, Ver?” tanya Pak Min kepada Very seorang, anaknya yang sedang menunggunya di salah satu ruang rumah sakit swasta yang cukup terkenal di kota ini. Very yang ditanya tidak langsung menjawab, sebab dia sendiri kurang begitu memperhatikan penanggalan. Bahkan akhirnya pertanyaan itupun tak terjawab oleh Very. Sebuah pertanyaan yang saat ini terus terngiang di telinga bagai aliran air di sungai yang sedang musim penghujan. Terus mengalir deras membasahi gendang telinga, terus turun ke kerongkongannya dan bermuara di dalam hatinya. Aliran yang membentuk penyesalan itu kini membatu di hati Very yang dirundung sedih.
Betapa tidak. Pertanyaan itu merupakan pertanyaan terakhir seorang ayah kepada anaknya yang tidak berjawab.
*****
Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan tahun 1430 Hijriah atau tahun 2009 Masehi menjadi awal datangnya musibah yang pasti akan mengunjungi setiap kehidupan manusia. Awal yang menjadi tanda berakhirnya hubungan antar manusia. Awal yang menjadi pertanda mulai menciutnya tali ikatan. Istri. Anak. Cucu. Menantu. Hingga sanak keluarga yang tidak terjumlah bilangannya.
Setelah 16 hari terbaring di ruang rumah sakit tersebut, Very baru menyadari bahwa ada seorang teman akrabnya yang belum diberitahu tentang kondisi ayahnya saat ini. Di hari ke-16 itu sang ayah masih membutuhkan satu kantong darah sebagai penyuplai darah yang belakang berkurang karena penyakit yang diderita sang ayah. “Ayahku membutuhkan tambahan darah A setelah 16 hari terbaring di rumah sakit ini.” Ia memulai ceritanya kepada Zaidir. Ia berharap, Zaidir mempunyai golongan darah yang sama dengan ayahnya. Zaidir yang berdarah B itu ternyata tidak cocok untuk ayahnya yang berdarah A.
Meskipun Zaidir berniat untuk mendonorkan darahnya kepada ayah sohibnya itu, namun karena ketidakcocokan itu membuatnya tidak mampu menolong ayah sohibnya tersebut. Di hari yang ke-16 itu, Very disibukkan oleh pencarian darah. PMI yang katanya sebagai pemasok cadangan darah, ternyata mengalami kekosongan. Mlompong. Bagai pintu yang baru saja dibobol maling dengan serakahnya. Tak tahu kemana raibnya cadangan darah itu. Rasa kesal dalam diri Very tidak mampu membuatnya mendapatkan cadangan darah.
Zaidir mencoba menghubungi beberapa orang temannya untuk dapat mendonorkan darahnya. Sayang seribu sayang. Nihil. ”Maaf Dir. Aku lagi kurang enak badan. Jadi nggak bisa donor”. Salah satu alasan yang didapat dari temannya. Tengsi darah lagi rendah. Aku tidak pernah donor jadi takut. Dan lain sebagainya menjadi alasan gagalnya Zaidir menolong ayah sahabatnya itu. Begitupun dengan Very. Ia gagal mencari kekurangan darah sebanyak 250cc lagi. Padahal sebelumnya sudah 5 kantong darah disalurkan ke dalam tubuh ayahnya. Minus satu kantong lagi.
*****
Rasa penyesalan masih membayang dimatanya. Berulangkali pertanyaan itu berdengung ditelinganya. Sebuah pertanyaan yang tak berjawab. Baru dia sadari bahwa setiap manusia yang terlahir di dunia telah mempunyai janji sendiri-sendiri. Dan setiap manusia tidak bisa mengingkari janjinya. Ketika perjanjian itu telah tiba, maka tak seorang pun dapat menundanya. Demikianlah yang ia rasakan. Pertanyaan itu seperti berhubungan dengan perjanjian sang ayah dan Sang Pencipta.
Tanggal yang ditanyakan oleh ayahnya itu pertanda bahwa beliau sudah mengetahui bahwa perjanjian itu sudah tiba. Hanya sedikit ingatan saja yang ia butuhkan untuk kembali mengingatnya. Bertanya kepada orang lain hanyalah suatu pelajaran bagi orang yang akan ditinggalkannya. Ah, seandainya aku memberikan jawaban itu apakah mungkin ayah akan bahagia di sana karena telah mengetahui dengan pasti tanggal perjanjiannya dengan Sang Pencipta. Tapi aku tak menjawabnya. Apakah ia akan bersedih di sana karena tidak mendapat jawaban dari orang yang telah dibesarkannya dengan kasih sayang seorang ayah. Seorang anak yang telah dibesarkannya dengan curahan jiwa raga dan segenap kemampuannya. Tapi anak itu tak mampu memberikan jawaban yang sepele. Sebuah tanggal. Mengingatkan akan perjanjiannya. Desah itu masih membasah dibibir Very. Berdengung nyaring di telinganya.
Terlihat ketiga saudara laki-lakinya tetap tegar. Tabah. Kuat. Tak terlihat cucuran airmata disana. Hanya wajah-wajah sedih yang kaku. Ada kerelaan yang terpaksa disetiap mata-mata itu. Tapi tidak untuk Very. Kedua mata itu mengalir deras airmata duka, ketidakrelaan masih nyata di matanya, penyesalan masih menyelubungi keberadaannya. Tangisan tanpa isak itu terasa bagai menyayat di relung hatinya. Tak bersuara. Perih.
Keperihan itu terasa semakin dalam manakala dia dan ketiga saudara laki-lakinya menggosok-gosok tubuh ayahnya sebersih mungkin. Kewajibannya untuk memandikan ayahnya itu membuatnya semakin tersayat. Mulai dari kaki digosok-gosok setiap celahnya, dibersihkan setiap kotoran yang melekat. Tubuh itu tidak berdaya lagi. Disetiap kali dia membersihkan tubuh itu, terlintas setiap kenangan. Mulai dari kenak-kanak hingga akhirnya dia tidak mampu memberikan jawaban kepada ayahnya itu. Sebuah jawaban yang dinantikannya. Berakhir tanpa jawaban. Sekarang? Hanya ketiga anaknya yang mampu membersihkan seluruh tubuh itu sebelum dilanjutkan pada prosesi berikutnya. Mengkafani.
Dihari yang ke-17, di pagi yang sunyi itu tubuh itu menggeliat. Kepanasan hingga akhirnya tak mampu lagi menggerakan tubuhnya. 8 September 2009 menjadi hari yang kelabu bagi keluarganya. Seandainya dia tahu ketika ayahnya bertanya tentu dia akan menjawab; saat ini tanggal 7 September 2009. Persis satu hari sebelum kepergian ayahnya, ia bertanya tentang tanggal itu.
Tak terucap kata-kata lagi ketika seluruh pelayat mengiringi kepergiannya menuju ke tempat peristirahatan terakhir sang ayah tercinta. Membisu bagai malam yang sunyi tanpa semilir angin berhembus. Tanpa suara binatang malam bernyanyi. Siang itu bagai malam dipenghujung hari. Sebelum menyongsong hari kehancuran. Demikianlah yang saat itu Very rasakan. Dikebisingan siang hari itu, dia kesunyian. Suara ambulan yang mengantar jenazah itu tak memasuki gendang telinganya. Gendang telinga itu disesaki dengan pertanyaan ayahnya. Tepat sehari sebelum kepergiannya.
*****
Kesunyian itu semakin membiru manakala ia dan kedua saudara laki-lakinya memasukkan tubuh yang pernah membimbingannya dengan kasih sayang itu ke dalam liang lahat yang sempit. Butiran air bening terus menggenang dikedua matanya meskipun tak sampai jatuh ke bumi. Tapi kedua lengan bajunya itu basah oleh airmata yang selalu disekatnya agar tidak jatuh membasahi tubuh ayahnya yang kini tak berdaya itu. Anak-anak yang dulu disayanginya itu kini mengembalikan tubuhnya ke dalam liang lahat yang sempit. Merekalah yang menguburkannya. Sebagai rasa kasih dan sayang serta hormat yang terdengar ironi.
Tubuh itu terbaring dalam kesunyian tepat duabelas hari sebelum Idul Fitri 1430 H. Meskipun tak mendapat jawaban atas pertanyaannya, dia ikhlas melepaskan mereka semua seraya menunggu pertanyaan yang akan diajukan-Nya.
*****
Didedikasikan untuk sahabatku Very Darmaji
Kota Jambi
8 September 2009