Friday, January 22, 2010

CERPEN

Pertanyaan Terakhir
Oleh: Suyadi

“Tanggal berapa sekarang, Ver?” tanya Pak Min kepada Very seorang, anaknya yang sedang menunggunya di salah satu ruang rumah sakit swasta yang cukup terkenal di kota ini. Very yang ditanya tidak langsung menjawab, sebab dia sendiri kurang begitu memperhatikan penanggalan. Bahkan akhirnya pertanyaan itupun tak terjawab oleh Very. Sebuah pertanyaan yang saat ini terus terngiang di telinga bagai aliran air di sungai yang sedang musim penghujan. Terus mengalir deras membasahi gendang telinga, terus turun ke kerongkongannya dan bermuara di dalam hatinya. Aliran yang membentuk penyesalan itu kini membatu di hati Very yang dirundung sedih.
Betapa tidak. Pertanyaan itu merupakan pertanyaan terakhir seorang ayah kepada anaknya yang tidak berjawab.
*****
Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan tahun 1430 Hijriah atau tahun 2009 Masehi menjadi awal datangnya musibah yang pasti akan mengunjungi setiap kehidupan manusia. Awal yang menjadi tanda berakhirnya hubungan antar manusia. Awal yang menjadi pertanda mulai menciutnya tali ikatan. Istri. Anak. Cucu. Menantu. Hingga sanak keluarga yang tidak terjumlah bilangannya.
Setelah 16 hari terbaring di ruang rumah sakit tersebut, Very baru menyadari bahwa ada seorang teman akrabnya yang belum diberitahu tentang kondisi ayahnya saat ini. Di hari ke-16 itu sang ayah masih membutuhkan satu kantong darah sebagai penyuplai darah yang belakang berkurang karena penyakit yang diderita sang ayah. “Ayahku membutuhkan tambahan darah A setelah 16 hari terbaring di rumah sakit ini.” Ia memulai ceritanya kepada Zaidir. Ia berharap, Zaidir mempunyai golongan darah yang sama dengan ayahnya. Zaidir yang berdarah B itu ternyata tidak cocok untuk ayahnya yang berdarah A.
Meskipun Zaidir berniat untuk mendonorkan darahnya kepada ayah sohibnya itu, namun karena ketidakcocokan itu membuatnya tidak mampu menolong ayah sohibnya tersebut. Di hari yang ke-16 itu, Very disibukkan oleh pencarian darah. PMI yang katanya sebagai pemasok cadangan darah, ternyata mengalami kekosongan. Mlompong. Bagai pintu yang baru saja dibobol maling dengan serakahnya. Tak tahu kemana raibnya cadangan darah itu. Rasa kesal dalam diri Very tidak mampu membuatnya mendapatkan cadangan darah.
Zaidir mencoba menghubungi beberapa orang temannya untuk dapat mendonorkan darahnya. Sayang seribu sayang. Nihil. ”Maaf Dir. Aku lagi kurang enak badan. Jadi nggak bisa donor”. Salah satu alasan yang didapat dari temannya. Tengsi darah lagi rendah. Aku tidak pernah donor jadi takut. Dan lain sebagainya menjadi alasan gagalnya Zaidir menolong ayah sahabatnya itu. Begitupun dengan Very. Ia gagal mencari kekurangan darah sebanyak 250cc lagi. Padahal sebelumnya sudah 5 kantong darah disalurkan ke dalam tubuh ayahnya. Minus satu kantong lagi.
*****
Rasa penyesalan masih membayang dimatanya. Berulangkali pertanyaan itu berdengung ditelinganya. Sebuah pertanyaan yang tak berjawab. Baru dia sadari bahwa setiap manusia yang terlahir di dunia telah mempunyai janji sendiri-sendiri. Dan setiap manusia tidak bisa mengingkari janjinya. Ketika perjanjian itu telah tiba, maka tak seorang pun dapat menundanya. Demikianlah yang ia rasakan. Pertanyaan itu seperti berhubungan dengan perjanjian sang ayah dan Sang Pencipta.
Tanggal yang ditanyakan oleh ayahnya itu pertanda bahwa beliau sudah mengetahui bahwa perjanjian itu sudah tiba. Hanya sedikit ingatan saja yang ia butuhkan untuk kembali mengingatnya. Bertanya kepada orang lain hanyalah suatu pelajaran bagi orang yang akan ditinggalkannya. Ah, seandainya aku memberikan jawaban itu apakah mungkin ayah akan bahagia di sana karena telah mengetahui dengan pasti tanggal perjanjiannya dengan Sang Pencipta. Tapi aku tak menjawabnya. Apakah ia akan bersedih di sana karena tidak mendapat jawaban dari orang yang telah dibesarkannya dengan kasih sayang seorang ayah. Seorang anak yang telah dibesarkannya dengan curahan jiwa raga dan segenap kemampuannya. Tapi anak itu tak mampu memberikan jawaban yang sepele. Sebuah tanggal. Mengingatkan akan perjanjiannya. Desah itu masih membasah dibibir Very. Berdengung nyaring di telinganya.
Terlihat ketiga saudara laki-lakinya tetap tegar. Tabah. Kuat. Tak terlihat cucuran airmata disana. Hanya wajah-wajah sedih yang kaku. Ada kerelaan yang terpaksa disetiap mata-mata itu. Tapi tidak untuk Very. Kedua mata itu mengalir deras airmata duka, ketidakrelaan masih nyata di matanya, penyesalan masih menyelubungi keberadaannya. Tangisan tanpa isak itu terasa bagai menyayat di relung hatinya. Tak bersuara. Perih.
Keperihan itu terasa semakin dalam manakala dia dan ketiga saudara laki-lakinya menggosok-gosok tubuh ayahnya sebersih mungkin. Kewajibannya untuk memandikan ayahnya itu membuatnya semakin tersayat. Mulai dari kaki digosok-gosok setiap celahnya, dibersihkan setiap kotoran yang melekat. Tubuh itu tidak berdaya lagi. Disetiap kali dia membersihkan tubuh itu, terlintas setiap kenangan. Mulai dari kenak-kanak hingga akhirnya dia tidak mampu memberikan jawaban kepada ayahnya itu. Sebuah jawaban yang dinantikannya. Berakhir tanpa jawaban. Sekarang? Hanya ketiga anaknya yang mampu membersihkan seluruh tubuh itu sebelum dilanjutkan pada prosesi berikutnya. Mengkafani.
Dihari yang ke-17, di pagi yang sunyi itu tubuh itu menggeliat. Kepanasan hingga akhirnya tak mampu lagi menggerakan tubuhnya. 8 September 2009 menjadi hari yang kelabu bagi keluarganya. Seandainya dia tahu ketika ayahnya bertanya tentu dia akan menjawab; saat ini tanggal 7 September 2009. Persis satu hari sebelum kepergian ayahnya, ia bertanya tentang tanggal itu.
Tak terucap kata-kata lagi ketika seluruh pelayat mengiringi kepergiannya menuju ke tempat peristirahatan terakhir sang ayah tercinta. Membisu bagai malam yang sunyi tanpa semilir angin berhembus. Tanpa suara binatang malam bernyanyi. Siang itu bagai malam dipenghujung hari. Sebelum menyongsong hari kehancuran. Demikianlah yang saat itu Very rasakan. Dikebisingan siang hari itu, dia kesunyian. Suara ambulan yang mengantar jenazah itu tak memasuki gendang telinganya. Gendang telinga itu disesaki dengan pertanyaan ayahnya. Tepat sehari sebelum kepergiannya.
*****

Kesunyian itu semakin membiru manakala ia dan kedua saudara laki-lakinya memasukkan tubuh yang pernah membimbingannya dengan kasih sayang itu ke dalam liang lahat yang sempit. Butiran air bening terus menggenang dikedua matanya meskipun tak sampai jatuh ke bumi. Tapi kedua lengan bajunya itu basah oleh airmata yang selalu disekatnya agar tidak jatuh membasahi tubuh ayahnya yang kini tak berdaya itu. Anak-anak yang dulu disayanginya itu kini mengembalikan tubuhnya ke dalam liang lahat yang sempit. Merekalah yang menguburkannya. Sebagai rasa kasih dan sayang serta hormat yang terdengar ironi.
Tubuh itu terbaring dalam kesunyian tepat duabelas hari sebelum Idul Fitri 1430 H. Meskipun tak mendapat jawaban atas pertanyaannya, dia ikhlas melepaskan mereka semua seraya menunggu pertanyaan yang akan diajukan-Nya.
*****

Didedikasikan untuk sahabatku Very Darmaji
Kota Jambi
8 September 2009

Posted by Yadie in 03:36:29 | Permalink | No Comments »

PERUNTUNGAN PILGUB 010

Peruntungan Pilgub 2010
Oleh: Suyadi, SPd., MA
“Luberjurdil” singkatan dari “langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil” merupakan asas pemilihan umum yang sejak reformasi telah digulirkan dibumi pertiwi ini. Arus reformasi yang berhasil mendobrak tirani kemapanan yang disalahartikan oleh penguasa saat itu menjadi ujung tombak bagi terlaksananya demokratisasi di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia saat ini.
Kemapanan yang membungkam hak-hak individu setiap warga atau yang lebih dikenal hak asasi manusia dalam segala bentuk dasarnya. Pembungkaman yang saat ini bukan jamannya lagi untuk diteruskan. Pembungkaman itu telah sirna seiring dengan arus reformasi yang terus mengalir bagai air bah. Namun, reformasi yang awalnya bagai air bah itu, kini mulai berkurang kekuatan arusnya seiring dengan bergemerincingnya reformasi yang beraroma uang. Penyalahartian makna “reformasi” terjadi saat ini. Sama halnya dengan penyalahartian “kemapanan” pada era orde baru dulu. Demokratisasi itu bergeser maknanya menjadi “democracy has a price”, demokrasi itu pasti ada harganya.
Lantas apa hubungannya antara dua buah penyalahartian/kesalahpahaman tersebut di atas dengan Pilgub Provinsi Jambi tahun 2010?
Sejak Indonesia diproklamasikan kemerdekaannya oleh Sukarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia, kita selalu bangga mengklaim bahwa kita adalah negeri yang demokratis. Meskipun selalu ada kesalahpahaman dalam mengartikannya dari generasi ke generasi. Berkat kesalahpahaman atau kesalahartian itulah yang selalu menyebabkan negeri tercinta ini dirundung duka kemiskinan yang tak terentaskan. Kesalahpahaman yang cenderung berulang yang hanya beda-beda tipis dengan kesalahan para pendahulunya. Setiap kesalahan itu selalu dikoreksi dengan cara merubah sistem yang bersifat artificial belaka. Tidak/belum menyentuh kepada makna proses demokrasi yang hakiki hingga menyentuh kerelung hati setiap individu warga bangsanya.
Dalam sistim pemilu yang dulunya hanya “luber” lalu berubah menjadi “luberjurdil” merupakan bentuk perbaikan yang dilakukan oleh anak bangsa. Sayangnya, menurut penulis perubahan itu hanya bersifat artificial, yang penting ada perubahan. Perubahan yang lebih cenderung procedural tidak akan memberikan makna hakiki dengan demokratisasi di negeri ini. Beberapa hasil pemilu sejak jaman orde baru hingga orde reformasi ini masih menyisahkan cacat, demokrasi yang bopengan. Demokrasi dan atau reformasi masih dipahami dengan uang. Memang ironis.
Politik uang pada setiap hajatan pemilu menjadikan demokrasi kita bopeng-bopeng. Pada tataran masyarakat awam demokrasi selalu dimaknai dengan pesta penghamburan uang oleh para kontestan peserta pemilu itu sendiri. Masyarakat awam dengan semangat yang meluap-luap siap menyongsong kedatangannya, baik pemilu legislative, presiden, ataupun pilkada. Terbayang sebaran “money politic” dimata mereka. Sebab kesalahartian para politikus terdahulu dalam memaknai demokrasi dengan uang sudah terlanjur diajarkan dan tertanam dihati masyarakat: tidak ada suara tanpa fulus. “Everybody has price” istilah yang lebih popular dikalangan para koruptor, kalangan mereka yang suka jual-beli jasa dalam segala hal.
Pilgub 2010
Menarik menyimak tulisan Drs.H.Navarin Karim, M.Si pada harian Jambi Ekspres tanggal 30 Desember 2009 yang menyatakan bahwa saksi mempunyai peran strategis dalam setiap tahapan pemilihan yang dimulai dari TPS hingga akhir penghitungan. Terlebih lagi yang menyatakan bahwa setiap saksi itu tidak bisa melakukan tugasnya tanpa ada insentif atau uang. Diyakini tidak ada yang gratis di negeri ini terlebih lagi untuk urusan politis. “No free lunch” untuk kalangan pebisnis.
Saat ini pemilihan umum baik pilkada maupun pileg telah menjadi ajang bisnis. Sama halnya seperti praktek-praktek biro jasa yang ditawarkan oleh para peserta pemilu dan masyarakat yang menjadi kliennya, yang siap menerima layanan jasa setelah mereka mendapat posisi, meskipun jasa itu tidak bisa diharapkan penuh dilayani setelah mereka terpilih.
Para calon gubernur maupun calon wakil gubernur adalah orang-orang yang siap melayani masyarakat seandainya mereka terpilih kelak. Meskipun kelak apabila mereka terpilih jasa yang dijanjikan itu tidak terlaksana, masyarakat tidak akan secara sungguh-sungguh menuntut layanan tersebut. Ini disebabkan ada semacam kesepakatan meskipun tidak tertulis di atas kertas: ada uang/barang ada suara. Untuk memantapkan kesepakatan itu sangat ditentukan oleh kerja keras para tim sukses di lapangan. Tim sukses ini adalah para prajurit dari para sang calon yang siap tempur hingga ke pelosok desa atau dusun sekalipun. Merekalah yang siap melontarkan setiap peluru dalam medan tempur pemilihan yang keakuratannya bisa diandalkan.
Kecermatan para tim sukses ini tidak bisa dihalangi oleh tim pemantau baik asing atau pun local, saksi bahkan Panwas sekalipun. Para pengawas pemilu tidak mempunyai kekuatan yang bisa diandalkan untuk menindaklanjuti setiap temuan pelanggaran di lapangan, sebab mereka hanya diberikan limit hingga batas tiga hari pelaporan sejak pertama kali kecurangan itu dilakukan. Waktu yang sangat minim untuk sebuah tindakan kecurangan pada pemilu. Namun yang demikian itu tertera didalam peraturan pemilu maupun pilkada.
Sangat diyakini pada pemilihan gubernur Provinsi Jambi kelak akan diwarnai dengan politik uang.
Peruntungan
Pemilihan gubernur Jambi tahun 2010 ini akan menjadi peruntungan baik bagi masyarakat maupun para calon itu sendiri. Sebenarnya peruntungan bagi para calon gubernur dan wakil gubernur sudah bisa dilihat dengan cara membaca jalan pikiran rakyat. Apakah kelak mereka bisa terpilih atau tidak? Tergantung dari peruntungan para calon itu sendiri dalam menyikapi watak masyarakat awam yang materialistis. Para calon yang realistis saja yang mampu memenangi pertarungan ini. Idealisme tidak bisa diandalkan dalam perhelatan ini.
Kekuatan partai pendukung hanya menjadi kepanjangan penyebaran amunisi setiap kandidat, meskipun demikian keakuratannya mendekati 60%. Tidak mutlak.
Para calon yang realistis akan menanggapi keinginan masyarakat dengan “materi” yang telah mereka persiapkan. Sementara para calon yang idealis akan menanggapi keinginan masyarakat itu dengan idealism of nihilism. Meskipun tetap meraih dukungan namun tidak mencukupi untuk menjadi pemenang dalam kontes pemilihan ini. “Democracy is all about money” kata mereka. Itulah sebuah harga dari suatu jabatan politis dinegeri yang masih gagap berdemokrasi seperti saat ini. Kegagapan yang menjadi kesalahan sejak lahirnya demokratisasi di negeri ini. “Mungkin” suatu saat nanti negeri ini akan menemukan jati diri demokrasi yang sejati bukannya demokrasi peruntungan yang datangnya seperti musim yang datang teratur setiap tahunnya tanpa mengubah pikiran dan hati setiap individu di dalamnya.

Suyadi, SPd., MA
Dosen Tetap ABA NH Jambi

Posted by Yadie in 03:31:14 | Permalink | No Comments »