Fenomena
Fenomena Pendidikan Gratis
Oleh: Suyadi, S.Pd., M.A.
Maraknya janji pendidikan gratis dari pasangan calon peserta Pilwako Kota Jambi membuat masyarakat linglung akan kebenaran janji yang dilontarkan tersebut. Apakah janji itu hanya dijadikan pemanis yang memolesi bingkai pasangan calon peserta Pilwako demi menjaring dukungan suara pada hajatan yang akan dilaksanakan pada tanggal 20 Agustus 2008 nanti. Pendidikan gratis telah menjadi bumbu/penyedap rasa bagi meningkatkan citra-rasa dan pemicu selera para pemilih Kota Jambi.
Memang bukanlah suatu program yang muluk bila kelak janji ini dapat dibuktikan oleh calon Pilwako yang terpilih pada Pilkada Kota Jambi, sebab sebenarnya program ini telah menjadi program bersama yang digulirkan oleh Pemerintah pusat. Hanya saja pelaksanaannya hingga saat ini belum bisa direalisasi secara serentak di seluruh Indonesia. Salah satunya adalah Pemerintahan Kota Makassar yang telah memulai program sekolah gratis tahun ajaran 2007/2008 untuk jenjang SD dan SMP (Kompas, 28/03/08). Sedangkan Provinsi Jambi tercatat baru Pemerintahan Kabupaten yang dipimpin oleh Hasan Basri Agus.
Fenomena gratis
Fenomena pendidikan gratis masih menjadi sebuah halo (kabut tipis yang melindungi) Kota Jambi dan menjadi sebuah sinyal kuat bagi pemenangan calon pasangan Pilwako nantinya. Kenapa masih menjadi sebuah fenomena? Ini dikarenakan untuk merealisasikannya bukanlah suatu hal yang mudah, perlu pemikiran yang dalam.
Menarik makna dari kata ‘gratis’ yang memiliki makna tidak membayar, tidak dibebankan bea alias bebas pungutan. Dengan demikian, apabila kita tambah dengan pendidikan gratis maka akan terbentuk makna kita/masyarakat bebas menentukan sekolah manapun karena tidak ada pungutan sepeser pun, masyarakat tidak dibebani biaya apapun untuk bisa menikmati pendidikan yang berkualitas. Tapi apakah kenyataannya bisa seperti itu? Bagaimana dengan perlengkapan belajar para siswa, seperti buku pegangan/buku paket, dan lain sebagainya? Apakah kategori ini juga termasuk ke dalam program pendidikan gratis tadi? Lantas bagaimana dengan kewajiban mengikuti pelajaran tambahan untuk mendongkrak nilai siswa? Apakah juga termasuk ke dalam program pendidikan gratis tadi? Khusus guru swasta, apakah mereka tidak perlu dibayar dalam proses pembelajaran di sekolah? Terlebih lagi bila sekolah mempunyai program prestise sekolah seperti study tur ke tempat-tempat wisata, dan lain sebagainya….
Jika untuk semua kegiatan itu masih dipungut biaya maka kita tidak bisa mengatakan bahwa program pendidikan itu gratis. Sebab gratis untuk pendidikan saat ini masih terlalu absurb, samar-samar bahkan hanya sebuah fenomena, jauh dari makna riil gratis itu sendiri.
Sekolah gratis
Meskipun sekolah gratis itu masih dalam bentuk program yang menggiurkan namun dapat dijadikan pengharapan bagi rakyat yang haus pendidikan, lapar pengetahuan, dan minim dalam pembiayaan. Intinya sekolah gratis menjadi harapan bila sang pemimpin terpilih kelak benar-benar bisa membuktikannya dengan kategori gratis disegala hal, kecuali baju seragam (tidak termasuk baju wajib sekolah), sepatu, tas serta alat-alat tulis plus tidak ada iuran komite yang memberatkan.
Dengan demikian sekolah gratis yang dicanangkan tersebut bisa dikatakan mampu mendongkrak jumlah peserta didik dan juga bisa mengurangi jumlah putus sekolah yang diakibatkan biaya membengkak ditahun-tahun terakhir pendidikan. Kemungkinan lainnya juga bisa meningkatkan sumber daya manusia yang handal sebagai akibat setiap warga diberikan akses pendidikan yang sama (sama-sama gratis) dan pendidikan yang berkualitas tentunya.
Kompetisi sekolah gratis
Sekolah gratis menjadi ajang kompitisi bagi para calon peserta Pilwako Kota Jambi. Tentunya mereka telah mempersiapkan segala kemungkinan-kemungkinan untuk menerapkannya bila kelak mereka terpilih. Yang perlu dipikirkan dalam pendidikan gratis itu adalah kesinambungan dari program tersebut, apakah program hanya menjadi program mereka belaka, sementara begitu mereka lengser program itu akan lengser pula.. Program sekolah gratis bila hanya menjadi program sementara pasangan belaka ada baiknya ditinjau kembali, sebab program jangka pendek untuk dunia pendidikan dirasakan kurang manfaatnya. Pendidikan memerlukan kontinuitas, tidak sepotong-potong. Tidak berhenti hanya pada satu periode pemerintahan.
Mungkin sebagai kompetitor dari program sekolah gratis adalah program beasiswa sepanjang hayat. Dimana setiap siswa yang kurang mampu dan mempunyai keinginan kuat untuk sekolah serta berprestasi minimal (tidak harus rangking 10 besar) saja pemerintah memberika beasiswa untuk semua item biaya pendidikan. Dan pihak pemerintahan terlebih dahulu mengirimkan tim khusus yang mengecek kebenaran akan keberadaan siswa tersebut, jadi tidak dibuat-buat.
Beberapa waktu lalu program beasiswa yang digelontorkan oleh Pemerintah Orde Baru cukup bagus, hanya saja sebagian besar dari penerima beasiswa itu berbohong sebagai ‘orang miskin’. Sebenarnya orang tua mereka orang yang mampu dan dengan menghilangkan hati nurani mereka, mereka meminta surat keterangan tidak mampu dari pihak Kelurahan. Selanjutnya mereka menerima beasiswa. Sementara yang benar-benar tidak mampu hanya gigit jari meskipun telah meminta surat keterangan dari Kelurahan.
Ada baiknya tim khusus beasiswa sepanjang hayat ini dibentuk oleh Pemerintahan terpilih dari setiap pasangan tadi sehingga pertanggungjawabannya secara langsung kepada Walikota terpilih. Program ini lebih menjanjikan daripada sekolah gratis yang masih absurb. Sebab dengan program beasiswa sepanjang hayat ini lebih mengarah kepada siswa-siswi yang kurang mampu saja, sedangkan bagi mereka yang tidak terjaring tetap bisa mengikuti program sebagaimana biasanya: sekolah murah untuk semua.
Dampak sekolah gratis
Saat ini memang sekolah gratis masih menjadi dambaan setiap insan dan kehadirannya sangat dinantikan. Namun dampak dari pendidikan gratis tentu tetap ada, tidak hanya dampak positif yang didapat tetapi juga dampak negatif. Dampak positif, masyarakat akan dengan mudah mendapatkan fasilitas pendidikan yang berkualitas dan ilmu pengetahuan menyebar dengan lancarnya.
Dampak negatifnya, kejemuan orang bersekolah akan datang dengan sendirinya sebab begitu banyaknya para lulusan yang berkualitas tersebar di seantero persada ini. Sehingga kompetisi dalam dunia ilmu tidak menjadi suatu hal yang luarbiasa lagi, dan orang cenderung bersaing dalam mencari pekerjaan. Dimana dengan bekerja mereka bisa menentukan pilihannya untuk mencari kepuasan diri. Jenjang pendidikan yang diraih mungkin hanya sebatas magister, sedangkan program doktoral akan kekurangan orang/mahasiswa.
Dampak lainnya adalah kurangnya kebangaan siswa / orang tua siswa ketika mereka mampu menyelesaikan suatu jenjang pendidikan sebab itu semua mereka peroleh secara gratis. Tanpa ada pengorbanan yang luar biasa dari orang tua yang patut dibanggakan karena semua sudah ditanggung oleh pemerintah.
Namun dengan program beasiswa sepanjang hayat akan menimbulkan kebanggaan tersendiri bukan hanya dari siswa tetapi juga kebanggaan bagi orang tua. Mereka bangga bisa menyelesaikan pendidikan dengan mendapatkan beasiswa sebagai simbol bahwa mereka adalah orang-orang pilihan. Mereka adalah para lulusan pilihan yang dibina oleh pemerintah melalui jalur beasiswa sepanjang hayat.
Dua pilihan bagi para calon peserta Pilwako: Program Pendidikan Gratis atau Program Beasiswa Sepanjang Hayat?
Penulis: Suyadi, S.Pd., M.A.
Pemerhati Masalah Pendidikan, Sosial dan Politik
Alumnus University of Pune, India.