Saturday, June 28, 2008

Fenomena

 

Fenomena Pendidikan Gratis

Oleh: Suyadi, S.Pd., M.A.

 

Maraknya janji pendidikan gratis dari pasangan calon peserta Pilwako Kota Jambi membuat masyarakat linglung akan kebenaran janji yang dilontarkan tersebut. Apakah janji itu hanya dijadikan pemanis yang memolesi bingkai pasangan calon peserta Pilwako demi menjaring dukungan suara pada hajatan yang akan dilaksanakan pada tanggal 20 Agustus 2008 nanti. Pendidikan gratis telah menjadi bumbu/penyedap rasa bagi meningkatkan citra-rasa dan pemicu selera para pemilih Kota Jambi.

Memang bukanlah suatu program yang muluk bila kelak janji ini dapat dibuktikan oleh calon Pilwako yang terpilih pada Pilkada Kota Jambi, sebab sebenarnya program ini telah menjadi program bersama yang digulirkan oleh Pemerintah pusat. Hanya saja pelaksanaannya hingga saat ini belum bisa direalisasi secara serentak di seluruh Indonesia. Salah satunya adalah Pemerintahan Kota Makassar yang telah memulai program sekolah gratis tahun ajaran 2007/2008 untuk jenjang SD dan SMP (Kompas, 28/03/08). Sedangkan Provinsi Jambi tercatat baru Pemerintahan Kabupaten yang dipimpin oleh Hasan Basri Agus.

 

Fenomena gratis

Fenomena pendidikan gratis masih menjadi sebuah halo (kabut tipis yang melindungi) Kota Jambi dan menjadi sebuah sinyal kuat bagi pemenangan calon pasangan Pilwako nantinya. Kenapa masih menjadi sebuah fenomena? Ini dikarenakan untuk merealisasikannya bukanlah suatu hal yang mudah, perlu pemikiran yang dalam.

Menarik makna dari kata ‘gratis’ yang memiliki makna tidak membayar, tidak dibebankan bea alias bebas pungutan. Dengan demikian, apabila kita tambah dengan pendidikan gratis maka akan terbentuk makna kita/masyarakat bebas menentukan sekolah manapun karena tidak ada pungutan sepeser pun, masyarakat tidak dibebani biaya apapun untuk bisa menikmati pendidikan yang berkualitas. Tapi apakah kenyataannya bisa seperti itu? Bagaimana dengan perlengkapan belajar para siswa, seperti buku pegangan/buku paket, dan lain sebagainya? Apakah kategori ini juga termasuk ke dalam program pendidikan gratis tadi? Lantas bagaimana dengan kewajiban mengikuti pelajaran tambahan untuk mendongkrak nilai siswa? Apakah juga termasuk ke dalam program pendidikan gratis tadi? Khusus guru swasta, apakah mereka tidak perlu dibayar dalam proses pembelajaran di sekolah? Terlebih lagi bila sekolah mempunyai program prestise sekolah seperti study tur ke tempat-tempat wisata, dan lain sebagainya….

Jika untuk semua kegiatan itu masih dipungut biaya maka kita tidak bisa mengatakan bahwa program pendidikan itu gratis. Sebab gratis untuk pendidikan saat ini masih terlalu absurb, samar-samar bahkan hanya sebuah fenomena, jauh dari makna riil gratis itu sendiri.

 

Sekolah gratis

Meskipun sekolah gratis itu masih dalam bentuk program yang menggiurkan namun dapat dijadikan pengharapan bagi rakyat yang haus pendidikan, lapar pengetahuan, dan minim dalam pembiayaan. Intinya sekolah gratis menjadi harapan bila sang pemimpin terpilih kelak benar-benar bisa membuktikannya dengan kategori gratis disegala hal, kecuali baju seragam (tidak termasuk baju wajib sekolah), sepatu, tas serta alat-alat tulis plus tidak ada iuran komite yang memberatkan.

Dengan demikian sekolah gratis yang dicanangkan tersebut bisa dikatakan mampu mendongkrak jumlah peserta didik dan juga bisa mengurangi jumlah putus sekolah yang diakibatkan biaya membengkak ditahun-tahun terakhir pendidikan. Kemungkinan lainnya juga bisa meningkatkan sumber daya manusia yang handal sebagai akibat setiap warga diberikan akses pendidikan yang sama (sama-sama gratis) dan pendidikan yang berkualitas tentunya.

 

Kompetisi sekolah gratis

Sekolah gratis menjadi ajang kompitisi bagi para calon peserta Pilwako Kota Jambi. Tentunya mereka telah mempersiapkan segala kemungkinan-kemungkinan untuk menerapkannya bila kelak mereka terpilih. Yang perlu dipikirkan dalam pendidikan gratis itu adalah kesinambungan dari program tersebut, apakah program hanya menjadi program mereka belaka, sementara begitu mereka lengser program itu akan lengser pula.. Program sekolah gratis bila hanya menjadi program sementara pasangan belaka ada baiknya ditinjau kembali, sebab program jangka pendek untuk dunia pendidikan dirasakan kurang manfaatnya. Pendidikan memerlukan kontinuitas, tidak sepotong-potong. Tidak berhenti hanya pada satu periode pemerintahan.

Mungkin sebagai kompetitor dari program sekolah gratis adalah program beasiswa sepanjang hayat. Dimana setiap siswa yang kurang mampu dan mempunyai keinginan kuat untuk sekolah serta berprestasi minimal (tidak harus rangking 10 besar) saja pemerintah memberika beasiswa untuk semua item biaya pendidikan. Dan pihak pemerintahan terlebih dahulu mengirimkan tim khusus yang mengecek kebenaran akan keberadaan siswa tersebut, jadi tidak dibuat-buat.

Beberapa waktu lalu program beasiswa yang digelontorkan oleh Pemerintah Orde Baru cukup bagus, hanya saja sebagian besar dari penerima beasiswa itu berbohong sebagai ‘orang miskin’. Sebenarnya orang tua mereka orang yang mampu dan dengan menghilangkan hati nurani mereka, mereka meminta surat keterangan tidak mampu dari pihak Kelurahan. Selanjutnya mereka menerima beasiswa. Sementara yang benar-benar tidak mampu hanya gigit jari meskipun telah meminta surat keterangan dari Kelurahan.

Ada baiknya tim khusus beasiswa sepanjang hayat ini dibentuk oleh Pemerintahan terpilih dari setiap pasangan tadi sehingga pertanggungjawabannya secara langsung kepada Walikota terpilih. Program ini lebih menjanjikan daripada sekolah gratis yang masih absurb. Sebab dengan program beasiswa sepanjang hayat ini lebih mengarah kepada siswa-siswi yang kurang mampu saja, sedangkan bagi mereka yang tidak terjaring tetap bisa mengikuti program sebagaimana biasanya: sekolah murah untuk semua.

 

Dampak sekolah gratis

Saat ini memang sekolah gratis masih menjadi dambaan setiap insan dan kehadirannya sangat dinantikan. Namun dampak dari pendidikan gratis tentu tetap ada, tidak hanya dampak positif yang didapat tetapi juga dampak negatif. Dampak positif, masyarakat akan dengan mudah mendapatkan fasilitas pendidikan yang berkualitas dan ilmu pengetahuan menyebar dengan lancarnya.

Dampak negatifnya, kejemuan orang bersekolah akan datang dengan sendirinya sebab begitu banyaknya para lulusan yang berkualitas tersebar di seantero persada ini. Sehingga kompetisi dalam dunia ilmu tidak menjadi suatu hal yang luarbiasa lagi, dan orang cenderung bersaing dalam mencari pekerjaan. Dimana dengan bekerja mereka bisa menentukan pilihannya untuk mencari kepuasan diri. Jenjang pendidikan yang diraih mungkin hanya sebatas magister, sedangkan program doktoral akan kekurangan orang/mahasiswa.

Dampak lainnya adalah kurangnya kebangaan siswa / orang tua siswa ketika mereka mampu menyelesaikan suatu jenjang pendidikan sebab itu semua mereka peroleh secara gratis. Tanpa ada pengorbanan yang luar biasa dari orang tua yang patut dibanggakan karena semua sudah ditanggung oleh pemerintah.

Namun dengan program beasiswa sepanjang hayat akan menimbulkan kebanggaan tersendiri bukan hanya dari siswa tetapi juga kebanggaan bagi orang tua. Mereka bangga bisa menyelesaikan pendidikan dengan mendapatkan beasiswa sebagai simbol bahwa mereka adalah orang-orang pilihan. Mereka adalah para lulusan pilihan yang dibina oleh pemerintah melalui jalur beasiswa sepanjang hayat.

Dua pilihan bagi para calon peserta Pilwako: Program Pendidikan Gratis atau Program Beasiswa Sepanjang Hayat?

 

Penulis: Suyadi, S.Pd., M.A.

Pemerhati Masalah Pendidikan, Sosial dan Politik

Alumnus University of Pune, India.

 

 

 

 

Posted by Yadie in 03:25:16 | Permalink | Comments (2)

Saturday’s News

Visiting’s Teachers

On Friday, we have four teachers visited ABA NH Jambi. They come from USA (Rael, Liz are from Texas and Kelly from Colorado, Daniel from Toronto,  Canada).

They shared experience to our students, encourage them to speak without hasitation, without worrying making mistakes, etc.

That’s all the news for today.

Posted by Yadie in 03:20:10 | Permalink | Comments (2)

Thursday, June 26, 2008

Factual Versification

This is another bored job I have ever done. Gathering all friends who are chosen to be versificated by the General Commission Board (KPU), they need my members to be checked. SO I brought them to KPU in the morning, only to show them that my members are really in.

I just want to show my capability to collect people for the sake of political party (HANURA) in where I register myself to be the chairman of a District in Jambi City (Jambi Selatan District). I also registered my name for being a candidate for the Representative House for the General Election 2009.

For the sake of my busy time; I lost two days for not writing my blog. I hope my loyal readers still have coriousity to search my news.

Wassalam
The Tough Blogger

Posted by Yadie in 03:59:35 | Permalink | Comments (2)

FENOMENON

Fenomena Pendidikan Gratis

Oleh: Suyadi, S.Pd., M.A.

 

            Maraknya janji pendidikan gratis dari pasangan calon peserta Pilwako Kota Jambi membuat masyarakat linglung akan kebenaran janji yang dilontarkan tersebut. Apakah janji itu hanya dijadikan pemanis yang memolesi bingkai pasangan calon peserta Pilwako demi menjaring dukungan suara pada hajatan yang akan dilaksanakan pada tanggal 20 Agustus 2008 nanti. Pendidikan gratis telah menjadi bumbu/penyedap rasa bagi meningkatkan citra-rasa dan pemicu selera para pemilih Kota Jambi.

            Memang bukanlah suatu program yang muluk bila kelak janji ini dapat dibuktikan oleh calon Pilwako yang terpilih pada Pilkada Kota Jambi, sebab sebenarnya program ini telah menjadi program bersama yang digulirkan oleh Pemerintah pusat. Hanya saja pelaksanaannya hingga saat ini belum bisa direalisasi secara serentak di seluruh Indonesia. Salah satunya adalah Pemerintahan Kota Makassar yang telah memulai program sekolah gratis tahun ajaran 2007/2008 untuk jenjang SD dan SMP (Kompas, 28/03/08). Sedangkan Provinsi Jambi tercatat baru Pemerintahan Kabupaten yang dipimpin oleh Hasan Basri Agus.

 

Fenomena gratisan

            Fenomena pendidikan gratis masih menjadi sebuah halo (kabut tipis yang melindungi) Kota Jambi dan menjadi sebuah sinyal kuat bagi pemenangan calon pasangan Pilwako nantinya. Kenapa masih menjadi sebuah fenomena? Ini dikarenakan untuk merealisasikannya bukanlah suatu hal yang mudah, perlu pemikiran yang dalam.

            Menarik makna dari kata ‘gratis’ yang memiliki makna tidak membayar, tidak dibebankan bea alias bebas pungutan. Dengan demikian, apabila kita tambah dengan pendidikan gratis maka akan terbentuk makna kita/masyarakat bebas menentukan sekolah manapun karena tidak ada pungutan sepeser pun, masyarakat tidak dibebani biaya apapun untuk bisa menikmati pendidikan yang berkualitas. Tapi apakah kenyataannya bisa seperti itu? Bagaimana dengan perlengkapan belajar para siswa, seperti buku pegangan/buku paket, dan lain sebagainya? Apakah kategori ini juga termasuk ke dalam program pendidikan gratis tadi? Lantas bagaimana dengan kewajiban mengikuti pelajaran tambahan untuk mendongkrak nilai siswa? Apakah juga termasuk ke dalam program pendidikan gratis tadi? Khusus guru swasta, apakah mereka tidak perlu dibayar dalam proses pembelajaran di sekolah? Terlebih lagi bila sekolah mempunyai program prestise sekolah seperti study tur ke tempat-tempat wisata, dan lain sebagainya….

            Jika untuk semua kegiatan itu masih dipungut biaya maka kita tidak bisa mengatakan bahwa program pendidikan itu gratis. Sebab gratis untuk pendidikan saat ini masih terlalu absurb, samar-samar bahkan hanya sebuah fenomena, jauh dari makna riil gratis itu sendiri.

 

Harapan sekolah gratis

            Meskipun sekolah gratis itu masih dalam bentuk program yang menggiurkan namun dapat dijadikan pengharapan bagi rakyat yang haus pendidikan, lapar pengetahuan, dan minim dalam pembiayaan. Intinya sekolah gratis menjadi harapan bila sang pemimpin terpilih kelak benar-benar bisa membuktikannya dengan kategori gratis disegala hal, kecuali baju seragam (tidak termasuk baju wajib sekolah), sepatu, tas serta alat-alat tulis plus tidak ada iuran komite yang memberatkan.

            Dengan demikian sekolah gratis yang dicanangkan tersebut bisa dikatakan mampu mendongkrak jumlah peserta didik dan juga bisa mengurangi jumlah putus sekolah yang diakibatkan biaya membengkak ditahun-tahun terakhir pendidikan. Kemungkinan lainnya juga bisa meningkatkan sumber daya manusia yang handal sebagai akibat setiap warga diberikan akses pendidikan yang sama (sama-sama gratis) dan pendidikan yang berkualitas tentunya.

 

Kompetisi sekolah gratis

            Sekolah gratis menjadi ajang kompitisi bagi para calon peserta Pilwako Kota Jambi. Tentunya mereka telah mempersiapkan segala kemungkinan-kemungkinan untuk menerapkannya bila kelak mereka terpilih. Yang perlu dipikirkan dalam pendidikan gratis itu adalah kesinambungan dari program tersebut, apakah program hanya menjadi program mereka belaka, sementara begitu mereka lengser program itu akan lengser pula.. Program sekolah gratis bila hanya menjadi program sementara pasangan belaka ada baiknya ditinjau kembali, sebab program jangka pendek untuk dunia pendidikan dirasakan kurang manfaatnya. Pendidikan memerlukan kontinuitas, tidak sepotong-potong. Tidak berhenti hanya pada satu periode pemerintahan.

            Mungkin sebagai kompetitor dari program sekolah gratis adalah program beasiswa sepanjang hayat. Dimana setiap siswa yang kurang mampu dan mempunyai keinginan kuat untuk sekolah serta berprestasi minimal (tidak harus rangking 10 besar) saja pemerintah memberika beasiswa untuk semua item biaya pendidikan. Dan pihak pemerintahan terlebih dahulu mengirimkan tim khusus yang mengecek kebenaran akan keberadaan siswa tersebut, jadi tidak dibuat-buat.

            Beberapa waktu lalu program beasiswa yang digelontorkan oleh Pemerintah Orde Baru cukup bagus, hanya saja sebagian besar dari penerima beasiswa itu berbohong sebagai ‘orang miskin’. Sebenarnya orang tua mereka orang yang mampu dan dengan menghilangkan hati nurani mereka, mereka meminta surat keterangan tidak mampu dari pihak Kelurahan. Selanjutnya mereka menerima beasiswa. Sementara yang benar-benar tidak mampu hanya gigit jari meskipun telah meminta surat keterangan dari Kelurahan.

            Ada baiknya tim khusus beasiswa sepanjang hayat ini dibentuk oleh Pemerintahan terpilih dari setiap pasangan tadi sehingga pertanggungjawabannya secara langsung kepada Walikota terpilih. Program ini lebih menjanjikan daripada sekolah gratis yang masih absurb. Sebab dengan program beasiswa sepanjang hayat ini lebih mengarah kepada siswa-siswi yang kurang mampu saja, sedangkan bagi mereka yang tidak terjaring tetap bisa mengikuti program sebagaimana biasanya: sekolah murah untuk semua.

 

Dampak sekolah gratis

            Saat ini memang sekolah gratis masih menjadi dambaan setiap insan dan kehadirannya sangat dinantikan. Namun dampak dari pendidikan gratis tentu tetap ada, tidak hanya dampak positif yang didapat tetapi juga dampak negatif.  Dampak positif, masyarakat akan dengan mudah mendapatkan fasilitas pendidikan yang berkualitas dan ilmu pengetahuan menyebar dengan lancarnya.

            Dampak negatifnya, kejemuan orang bersekolah akan datang dengan sendirinya sebab begitu banyaknya para lulusan yang berkualitas tersebar di seantero persada ini. Sehingga kompetisi dalam dunia ilmu tidak menjadi suatu hal yang luarbiasa lagi, dan orang cenderung bersaing dalam mencari pekerjaan. Dimana dengan bekerja mereka bisa menentukan pilihannya untuk mencari kepuasan diri. Jenjang pendidikan yang diraih mungkin hanya sebatas magister, sedangkan program doktoral akan kekurangan orang/mahasiswa.  

            Dampak lainnya adalah kurangnya kebangaan siswa / orang tua siswa ketika mereka mampu menyelesaikan suatu jenjang pendidikan sebab itu semua mereka peroleh secara gratis. Tanpa ada pengorbanan yang luar biasa dari orang tua yang patut dibanggakan karena semua sudah ditanggung oleh pemerintah.

            Namun dengan program beasiswa sepanjang hayat akan menimbulkan kebanggaan tersendiri bukan hanya dari siswa tetapi juga kebanggaan bagi orang tua. Mereka bangga bisa menyelesaikan pendidikan dengan mendapatkan beasiswa sebagai simbol bahwa mereka adalah orang-orang pilihan. Mereka adalah para lulusan pilihan yang dibina oleh pemerintah melalui jalur beasiswa sepanjang hayat.

            Dua pilihan bagi para calon peserta Pilwako: Program Pendidikan Gratis atau Program Beasiswa Sepanjang Hayat?

 

Penulis: Suyadi, S.Pd., M.A.
Pemerhati Masalah Pendidikan, Sosial dan Politik
Alumnus University of Pune, India.

Posted by Yadie in 03:48:36 | Permalink | Comments (1) »

Monday, June 23, 2008

Adverstisement

For My Loyal Readers….

Via this blog I open a chance for you all for inviting me in some occassions such as seminar, worhshop, competition, debate, and many other activities you have. SO you can contact me via this blog, but of course no free lunch for us, am I right guys? But for the fee we may negotiate till we find the deal, in case we couldn’t find the deal we suppossed not to be disappointed.

Now, I am waiting for your invitation.

Posted by Yadie in 02:34:28 | Permalink | Comments (2)

SUnday Workout

Hi, My Readers!

Read my story was it on Sunday, June 22, 2008

                                                                     Sunday Workout

It was not a real workout I have done. It was a stupid deed happened to me, my wife, my son and my daughter. It is an unforgotable experience pushing my bike about one miles.

 

A night before my bike’s fuel was running out and I fueled it nearby my house due to the gas station was in a heavy queue. I decided to buy fuel outside of the gas station, it priced me Rp. 8,000,- while in the station it is only Rp. 6,000,-

 

At 13.00 PM we went to a wedding party of my wife’s friend, it is in Buluran, Telanaipura Jambi. It is about 5 km from my house. But when we want to go back home, my bike stucked did not move up. A million times I tried to start it on, but the engine was no respons. I pushed it. My wife and my children walked till I found the vendor workhouse. Two litres fuel from my bike thrown away change with the new fuel. Then my bike can be started easily. Fuel I bought outside was added with other substances like water, gasoline, etc., that is why my bike couldn’t be started.

 

From my experience, so be carefule to buy fuel outside the station. It  can harm ourselves, they are unresponsible person who want to get benefit without caring others.

 

That was my Sunday workout.

Posted by Yadie in 02:25:41 | Permalink | Comments (2)

Saturday, June 21, 2008

Opini: Harganas

 

Harganas dan Pilwako

Oleh: Suyadi, S.Pd., M.A.

 

Keluarga merupakan unit pendidikan terkecil dalam struktur sosial kemasyarakatan yang mempunyai peran besar dalam menentukan arah pembangunan manusia seutuhnya. Manusia yang sehat jasmani dan rohani, mampu menyeimbangkan antara kebutuhan jasmani dan rohani, tidak melulu memikirkan duniawi, tidak hanya memperturutkan hawa nafsu manusiawi yang bersifat sesaat. Kehidupan keluarga yang harmonis tercukupi segala kebutuhan baik jasmani maupun rohani, mempunyai akses kehidupan yang lancar serta saling tenggang rasa antar sesama diyakini akan mampu mengarahkan suatu negara mencapai tujuannya secara maksimal.

Karena pentingnya makna keluarga dalam struktur sosial masyarakat, maka Pemerinah Indonesia menentukan satu hari khusus untuk merayakan hari keluarga secara nasional. Tahun 2008 ini Hari Keluarga Nasional (Harganas) diadakan di provinsi Jambi yang puncaknya akan dilaksanakan pada minggu akhir bulan Juni tahun 2008 ini. Siapkah kita sebagai tuan rumah Perayaan yang berskala nasional itu? Lantas apa hubungannya antara Harganas dan Pilwako Kota Jambi?

 

Makna Keluarga

Suatu keluarga itu semestinya menjadi pusat pendidikan / pembelajaran bagi anak-anak dan sebagai wadah bagi mereka untuk mencurahkan segala keluh kesah, menjadi tempat istirahat yang nyaman, sebagai tempat saling asah, asih dan asuh. Singkatnya, rumahku adalah surgaku, sehingga apapun tujuan / cita-cita kira harus dimulai dari rumah (keluarga) kita sendiri. Meskipun selanjutnya makna keluarga itu bisa meluas seiring dengan bentuk-bentuk kekerabatan antara anggotanya.

Keluarga mempunyai makna yang luas seiring dengan bentuk kekerabatan yang juga meluas. Dimana kita sering mendengar adanya ikatan keluarga Pesisir, Malalo, Merangin dan lain sebagainya. Itu semua merupakan bentuk kekerabatan yang terjalin berdasarkan kedaerahan tempat mereka berasal. Demikian juga dengan Indonesia, mempunyai ikatan kekeluragaan yang erat berdasarkan kesatuan wilayah yang seharusnya sama-sama kita jaga keutuhannya, kita bina kekerabatannya, kita jalin erat tali persaudaraannya dan kita junjung kebersamaannya. Harganas menjadi salah satu wujud jalinan kekeluargaan tersebut, itulah makna keluarga secara luas.

 

Keluarga Pilwako

Tahun ini Provinsi Jambi menjadi tuan rumah Harganas dan dipusatkan disalah satu kabupaten akan menjadi tonggak yang signifikan bagi kita untuk menunjukkan potensi kita baik potensi alam maupun potensi sumber daya manusianya. Potensi sumber daya alam tidak akan diulas dalam tulisan ini sebab kita semua sudah paham dengan potensi alam kita.

Meskipun secara kedaerahan kita adalah keluarga besar masyarakat Jambi namun di dalam menghadapi ajang bergengsi Pilwako secara sadar kita memperkecil makna kekeluargaan tadi. Sehingga makna keluarga tadi menciut berdasarkan egoisme kesukuan yang elitis (mungkin bersifat sementara). Dengan sengaja kita mengkotak-kotakan diri kita yang sebenarnya tidak perlu kita lakukan hal itu; sebab bagaimanapun kita sudah satu keluarga yaitu Keluarga Besar Masyarakat Jambi.

Sayangnya ajang Pilwako telah menjadi arena pemisahan yang nyata ditiupkan oleh para kandidat demi meraih dukungan dalam Pilkada 20 Agustus 2008 tadi. Disini Penulis mengaharapkan agar masyarakat tidak terbius oleh pengkotakan yang saat ini terjadi sebagai akibat dari persaingan dalam Pilwako Kota Jambi. Kita berhak mendukung setiap pasangan tanpa harus melihat suku, garis keturunan, kandidat kaya atau kandidat miskin, namun pilihlah kandidat yang berpotensi.

Kandidat yang mampu menyejahterakan rakyat, kandidat yang mampu mencerdaskan, menyehatkan serta kandidat yang mampu menyatukan tali kekeluargaan antar warga. Dengan datangnya Harganas di Provinsi Jambi seharusnya kita mampu menjalin kembali tali kekeluargaan sehingga Pilwako kelak tidak berpotensi menimbulkan konflik karena egoisme kesukuan yang ditanamkan pada saat sosialisasi ataupun dalam kampanye.

Silaturrahmi Keluarga

Silaturrahmi merupakan cara yang sangat efektif untuk tetap menjaga tali kekeluargaan diantara kita, sehingga kita diwajibkan untuk selalu melestarikan silaturrahmi agar tidak terputus jalinan kekeluargaan tadi.

Persiapan Harganas di Provinsi Jambi sudah terasa gemanya saat ini khususnya di Kota Jambi. Berbagai persiapan sudah dilakasanakan yang melibatkan masyarakat. Diinstruksikan agar masyarakat sekitar arena eks MTQ agar bersedia menampung keluarga kita dari provinsi lain yang turut andil dalam perayaan Harganas 2008 ini. Keterlibatan rakyat secara langsung seperti sangat berdampak positif, kita diharapkan mampu menolong keluarga kita yang datang dari daerah lain untuk sekedar memberikan tempat beristirahat selama perayaan berlangsung nanti.

Tanggapan dari masyarakat cukup positif, sebagian besar mereka mau menerima kedatangan kontingen peserta Harganas dan menyediakan ruang peristirahatan sementara buat mereka. Ini menunjukkan bahwa tali kekeluargaan antar warga bangsa Indonesia masih sangat kuat, dan harus tetap dijaga kelestariannya!

 

Tuan Rumah

Sudah selayaknyan kita sebagai tuan rumah perayaan Harganas tahun ini memberikan pelayanan yang maksimal kepada anggota keluarga kita dari daerah lain yang saat ini berkunjung ke daerah kita. Keramahtamahan kita akan membuat kebahagian bagi keluarga kita yang lain, jangan kecewakan mereka karena ketidakramahan kita.

Harganas tahun lalu ternoda oleh sekelompok anggota keluarga yang yang kecewa terhadap Kepala Keluarga sehingga mereka mengibarkan bendera ketidakpuasan mereka yang cenderung separatis. Jambi sangat jauh dari separatisme. Namun diharapkan kepada seluruh masyarakat Jambi mampu menciptakan suasana kondusif demi lancarnya Perayaan Harganas bulan Juni tahun 2008 ini, sehingga akan berdampak pada lancarnya hajatan Pilwako Kota Jambi bulan Agustus tahun 2008. Selamat datang para peserta Harganas Tahun 2008 di Sepucuk Jambi Sembilan Lurah, Tanah Pilih Pesako Betuah.

 

Alumnus University of Pune, India.

Pemerhati Masalah Sosial, Politik dan Pendidikan

http://www.soeyadi.blog.com

 

Posted by Yadie in 03:19:59 | Permalink | Comments (2)

Cerpen: Iga Yang Malang

SKANDAL CINTA DI KAPAL ASIA

Cerpen: Suyadi

“Ah, kenapa rasa ini masih ada?” desis Iga yang baru saja beranjak dari tempat tidurnya. Rasa yang masih terus menggelayuti relung hatinya semenjak ia meninggalkan Kapal Asia atau “Nippon Maru” yang penuh kenangan itu. Sebuah kenangan yang indah yang sangat sulit untuk dilupakan oleh Iga yang baru beranjak dewasa itu. Kenangan itu seakan terus membayangi di pelupuk matanya yang teduh, seteduh Laut China Selatan yang diarunginya bersama rombongan pemuda-pemudi dari seluruh negara Asia Tenggara plus Taiwan dan Jepang.

Nippon Maru adalah nama lain dari Kapal Asia itu yang melibatkan Iga untuk bergabung dengan para pemuda pemudi yang mewakili negaranya masing-masing dalam Program Pertukaran Pemuda, Youth Exchange Program yang melibatkan lebih dari sepuluh negara. Yang mana masing-masing negara diwakili oleh tigapuluh orang terdiri dari pemuda dan pemudi yang akan saling bertukar pengalaman, pengetahuan dan tentunya budaya masing-masing negara. Untuk bisa terpilih dalam pertukaran itu bukan suatu pekerjaan yang mudah karena harus melalui beberapa tahapan yang ketat, sehingga hanya mereka yang “lebih” lah yang bisa mengikuti program tersebut.

Kelebihan itu juga dimiliki Iga yang baru menginjak usia 21 terlibat dalam Kapal Asia. “Kenapa rasa itu masih ada?” bisik Iga lagi dalam kesendiriannya di kamar mandi yang perlahan mulai membasahi sekujur tubuhnya. Kenangan yang menggores di hati itu sudah terjadi sejak tiga tahun lalu, namun terasa seperti baru beberapa hari saja.

Terasa dingin pagi itu menelusuri pori-porinya sehingga membuat dia sedikit menggigil. “Iga, ada telpon dari temanmu di Jakarta”, suara itu datang dari Ussy adiknya yang masih di bangku SMA kelas 2. “Ya, tunggu sebentar. Katakan saja lima menit lagi baru nelpon,” begitu balasan Iga dari kamar mandi dengan suara yang dipaksakan membesar. Segera ia menyelesaikan mandinya lalu segera menuju ke kamarnya untuk berganti pakaian. Segera menuju kamar, mengeringkan tubuh mungilnya yang sedikit agak kehitam-hitaman, ciri khas asli Ambon manise. Mengenakan pakaian sekedarnya, dan sedikit tergesa lalu ia menuju telpon yang sedang berdering.

‘Kring, kring’. Dering telpon itu berbunyi lagi tepat setelah lima menit Iga keluar dari kamar mandi. Bergegas ia menuju telpon yang berada di pojok rumahnya. “Ya, hallo. Siapa ya?” begitu ia menjawab telpon dari sebrang sana. “Hey, Nia. Apa kabar?” sedikit kaget Iga mengetahui orang yang bicara di seberang sana. Ternyata Nia itu seorang temannya yang ia kenal di Kapal Asia dalam program yang sama. “Iga, alumnus Kapal Asia ada acara ngumpul nih,” begitu Nia memula informasinya dari Jakarta. “Jadi, ente diharap hadir untuk acara itu. Gimana?” tanya Nia dari seberang sana, antusias mengajak keterlibatan Iga pada acara reuni para peserta Youth Exchange di Jakarta. Sedikit berpikir, Iga lalu menjawab kesediaannnya untuk bergabung dalam acara itu. “Oh, ya! Kalo gitu gue ikutan dong. Sebab udah lama nih kita nggak ngumpul-ngumpul lagi. Kangen.” Berbinar mata Iga mendapat berita itu, sepertinya ia mencoba membayangi lagi memori itu dengan harapan-harapan baru untuk bisa lebih dekat seseorang yang pernah singgah di hatinya, walau hanya sesaat.

Sejurus kemudian Iga sudah larut dalam mimpinya. Seakan suasana di Sky Veranda kembali hadir, nyata, indah, semilir angin laut yang basah semakin membuat dirinya ogah meninggalkan tempat itu. “Ah, masak sih kamu masih jomblo? Orang seperti kamu tidak layak untuk berjomblo ria, tau”. Dalam mimpinya Iga berbicara dengan seseorang entah siapa. Sky Verandah merupakan salah satu tempat di Kapal Asia yang letaknya di lantai dua, bebas menghadap laut lepas, sejauh mata memandang hanya lautan luas membiru dan seringkali dijadikan tempat ngobrol para peserta dari manca negara. Selain suasananya yang asyik juga sangat cocok untuk melepaskan keluh kesah yang kerap dihadapi oleh para peserta. Mulai dari persoalan adaptasi cuaca, makanan, budaya, bahkan sampai keluh kesah mengenai asmara. Di tempat inilah, Iga untuk pertama kalinya curhat dengan seseorang mengenai pribadinya, tentang kehidupannya, tentang percintaannya, dan tentang keinginan-keinginannya terhadap pria yang menjadi idamannya. Danang adalah laki-laki yang menjadi teman curhatnya saat itu, dan sepertinya Danang pun respon dengan Iga. Mendengarkan kisahnya dengan serius sesekali menanggapi, memberi saran, dan menasehati Iga yang seringkali larut dalam cerita-ceritanya.

Sejak itulah Danang menjadi satu-satunya orang tempat curhat Iga, yang selanjutnya menimbulkan benih-benih rasa yang beda dari sekedar teman. Sayangnya, di tempat yang sama pula, ternyata ada teman wanita Iga yang juga menaruh perhatian terhadap Danang. Bahkan perhatian jauh lebih besar dari apa yang dimiliki Iga sendiri. Parahnya lagi, mereka telah saling mengenal jauh sebelum mereka menyatu di Kapal Asia itu. Teman satu provinsi. Sama-sama telah mengikuti proses yang panjang dalam pemilihan dalam Youth Exchange tersebut, hingga saat yang bersamaan pula mereka meyatu lagi. Rasa cinta yang telah tumbuh jauh sebelum perasaan itu menyerang Iga.

Waktu telah dua tahun berlalu, ternyata Iga tak mampu menghilangkan perasaan aneh yang setia menghiasi relung hatinya yang masih jomblo. Terlebih lagi satu tahun terakhir Danang sering sms Iga mulai dari sekedar menanyakan kabar hingga menyampaikan rasa kangennya. Tentunya rasa kangen seorang cowok yang terkesan iseng. Namun itu cukup membuat Iga berbunga. Beberapa bulan terakhir Danang mengabari bahwa ia telah menikah dengan wanita yang juga teman Iga saat bersama-sama mengarungi Samudra Indonesia, Laut China Selatan hingga Laut Jepang.

Dalam pasrahnya Iga bergumam, “Biarlah akan kusimpan rasa ini hingga batas waktu yang tentu. Mungkin dia bukan jodohku”. Sambil berlalu ia menuju tempat tidurnya, terasa agak lemas sekujur tubuhnya begitu mendapat telpon dari Denia untuk kembali berkumpul dalam acara reuni Peserta Kapal Asia semua angkatan. Ada kekuatiran dalam hati Iga untuk bertemu kembali dengan dua orang yang sama-sama sering menghiasi kehidupannya setelah pulang dari program Youth Exchange. Di tempat yang sama dengan orang-orang yang sama pula. Bedanya mereka tidak mengarungi samudera lagi, hanya di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, tapi ada sesosok yang masih misterius di hati Iga, Danang Kusuma Atmaja. Pria berambut agak gondrong dengan senyumnya yang khas, bibir tipis yang selalu tersenyum, serta prilakunya yang terus meninggalkan kesan di hati Iga Saraswati.

Beranjak Iga dari tempat tidurnya dengan perasaan yang gundah, seraut wajah yang pernah ia kenal di Kapal Asia baru saja mengunjunginya dalam tidurnya yang nyeyak. Suasana di Kapal itu kembali membayang di pelupuk matanya, duduk bersama-sama teman yang juga mengikuti program Kapal Asia. Di saat mana Iga untuk pertama kalinya mengenal teman-teman dari seluruh provinsi yang ada di Indonesia dalam Program Pertukaran Pemuda khususnya dalam bidang kebudayaan. Setiap sudut kapal Asia yang nyaman itu membuatnya ingin kembali mengikuti program yang sama hingga waktu yang terbatas, apalagi sosok wajah yang tersimpan dihatinya juga ada di sana.

“Andai saja aku tidak terpilih dalam program itu, mungkin aku tidak akan pernah mengalami perasaan seperti ini. Membayangkan suatu persahabatan yang sedikit lebih dari sahabat, tapi tak mungkin itu dapat kuraih,” gumam Iga sambil terus menyikat giginya yang putih terjajar rapi. Danang telah menjadi milik orang lain. “Tak mungkin bagiku merebut milik orang yang juga temanku sendiri. Haruskah aku hadir dalam acara itu? Apakah aku harus jujur bahwa aku sangat mencintainya? Sampai hatikah aku menghianati persahabatan kami yang terbina selama mengikuti program itu? Ah…….”.

Sejuta pertanyaan yang tak terjawab, namun memerlukan jawaban, demi sikapnya dalam menghadapi acara reuni Kapal Asia itu. Ternyata rasa itu masih ada!

 

 

Penulis: Lulusan Sastra Inggris (S2) di University of Pune, India.

 

 

Posted by Yadie in 03:18:53 | Permalink | Comments (2)

Family’s Tree

 











                             
FAMILY’S TREE























S A N I J O Y O




















KASAN REJO + TIMPI


















1. SUNARTO + SARKINI

2. MISEH (Pr) + KAMIJAN
















1. SUYATI

1. MAS MIN





2. SUYOTO

2. TUKIJEM





3. SUYANAH

3. LASTRI





4. SUYADI

4. IWAN





5. ENDANG SUKOWATI


















1. SUYATI + TURIJAN
2. SUYOTO + TATIK
3. SUYANAH + SURATMAN
4. SUYADI + HUSNAINI
5. ENDANG + SUKIMAN










1. DIAN + AGUS
1. DICKY/BAMBANG
1. SITI
1. GILANG WIBISONO SHA
1. DIMAS
2. DIAH
2. DWI
2. ENOK
2. MARSHA PALLUPPI SHA


3. ARIEF









4. MARNI




















Posted by Yadie in 03:17:04 | Permalink | Comments (2)

Poetry Midtest Results

Foreign Language Academy of Nurdin Hamzah Jambi (ABA-NH)

Poetry Midtest Results

Semester IV

Date : Thursday, 18/06/08




No.

Students’ Name

Marks

Remarks

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

Sutarno

Kemas Sumardi

Eka Wahyuni

Heri Yulianto

Ade Septriani

Sari Fitri Ningsih

Kurniawati

Amrullah

Efriyandi

Nurma Yunita

Andi Mulyati

Donny Iriandi

Fatmawati

Sioke Lature

Maria

Margaretha Rusminawati

Fajar Armajaya

Nur Ani Astuti

Samriah

65

25

44

38

42

19

44

50

57

17

38

47

35

-

37

16

65

43

31

Keeps mantaining it

Read much!

Read much!

Read much!

Read much!

Read much!

Read much!

Read much!

Keeps mantaining it

Read much!

Read much!

Read much!

Read much!

No comments

Read much!

Read much!

Keeps mantaining it

Read much!

Read much!

Highest Mark is 100

 

Lecturer

 

Suyadi, S.Pd., M.A.

Posted by Yadie in 03:14:54 | Permalink | Comments (3)