Tuesday, September 1, 2009

Dikti

Pendidikan Pascasarjana Profesi      
Ditulis oleh Irwandi   
Friday, 21 August 2009

Sebanyak 88 dosen politeknik Indonesia terseleksi akan mengikuti program Double Degree Kerjasama Indonesia dan Perancis (DDIP) 2009.

Program pascasarjana profesi ini khusus diperuntukkan bagi dosen politeknik. Tahun pertama, kuliah dilangsungkan di perguruan tinggi penyelenggara di Indonesia. Berikutnya, tahun kedua dilakukan di perguruan tinggi Perancis. Bagi yang lulus, mendapatkan dua ijazah sekaligus dari masing-masing perguruan tinggi.

Dosen terseleksi terdiri dari 30 orang dari Program Studi Teknik Elektro; 20 orang dari Program Studi Teknik Mesin; 12 orang dari Program Studi Teknik Sipil; 8 orang dari Program Studi Pertanian dan 16 orang dari Program Studi Kajian Pariwisata.

 “Pascasarjana profesi ini untuk menjawab perintah Undang-Undang No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen bahwa semua Dosen, termasuk di Politeknik harus memiliki kualifikasi minimal magister, sekaligus mengakomodir kompetensi utama mereka yang berbasis vokasi. Perancis memiliki Modalitas magister of Profesional studies yang cukup baik”, kata Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D  dalam acara Pembekalan Program DDIP 2009 (20/08)

Bapak Dominique Dubois, Atase kerjasama Ilmiah dan Teknik Perancis berkesempatan hadir dan memberikan pengantar yang sangat atraktif tentang sistem dan dinamika pendidikan di Perancis. Hadir juga bapak Prof. Dr. Muchlas Samani, Direktur Ketenagaan Dikti, dan Drs. Istri Hardiyati, MM, Kasubdit Pengembangan Ketenagaan, Ditnaga, Dikti.

Para dosen yang terpilih akan diperlakukan istimewa selama mengikuti pendidikan di Perancis, kata bapak Dominique. ‘Akan dijemput semenjak kedatangan pertama mereka di Bandara, dicarikan kereta api terbaik dan diantar sampai ke dormitory”, tambah bapak Doiminique.

Program ini didanai dengan dana pemerintah Indonesia dan pemerintah Perancis. Pemerintah Indonesia mendanai pendidikan di Indonesia berupa Beasiswa Pendidikan Pascasarjana (BPPS) dan pendidikan di Perancis berupa beasiswa luar negeri (Living cost dan airfare). Pemerintah Perancis mendanai tuition fee, asuransi, dan pendidikan bahasa Perancis di Indonesia. 

Tahun 2009 ini ada 4 perguruan tinggi penyelenggara yaitu 1) Universitas Indonesia dengan melibatkan Program Studi: Teknik Elektro, Teknik Mesin, dan Teknik Sipil; 2) Institut Pertanian Bogor dengan melibatkan Program Studi Profesi Industri Kecil dan Menengah; 3) Universitas Gadja Mada dengan melibatkan Program Studi Administrasi Bisnis; 4) Universitas Udayana dengna melibatkan Program Studi Pariwisata. Semoga sukses. 

Recommend this article…
Terakhir Diperbaharui ( Friday, 21 August 2009 )

Posted by Yadie at 02:53:47 | Permalink | No Comments »

Ramadhan 1430H

This ramadhan, I do with a full heart of mine. It is useful to get my action fly like cloud, without any disturbance.
Posted by Yadie at 02:49:16 | Permalink | No Comments »

Wednesday, August 19, 2009

Final Test August, 2009

This is to announce that all the result of ABA-NH final test held in Augut 2009 is already declared. This is the results of Mr. Angling Suyadi Nart’s subjects, all the results cannot be negotiated anymore:

Sorry, for all students of ABA NH, the results cannot be issued on this blog as some problems are coming when I was trying to issue the results. But in order not to make you upset, you can contact/meet the registrar’s desk to see your mark.

Would you satisfied with your own results. I hope you can improve your ability in the next semester.

Best of luck to you.

Your Flamboyant Lecturer

Angling Suyadi Nart

Posted by Yadie at 02:39:20 | Permalink | No Comments »

Saturday, June 6, 2009

Peace be upon you

For such a long day, I didn’t update my blog. Sorry for that. I was busy with my legislative election for myself, now, I got my time again to update my blog.

News: I did not make it in my legislative election. And the vote people gave to me is not sufficient to sit on one chair in House of Representative. But I still have a great energy to do it again for the next period. It is like a success which is delayed, it is gonna be come in another day. 

Posted by Yadie at 02:33:04 | Permalink | No Comments »

Wednesday, May 27, 2009

Marsha

She is my second children,now she is 2 years and 2 months. She is funny, a little bit naughty, hard to be arranged, and like to be freen on her own side. She wants what she needs, without caring somebody will argue with her action. she liketo be free, like playing in the bathroom, putting herself in bath tube, etc.
She is a little bit overactive in action, when she go to bed she feels tired, of course by cryingg at night. I like her much.

Posted by Yadie at 03:46:31 | Permalink | No Comments »

Saturday, May 23, 2009

Brain Drain

Brain Drain, Tantangan Pendidikan Nasional Kita

Oleh: Suyadi, SPd., M.A.

 

            Kinerja KPU yang tidak maksimal dalam menangani DPT menjadi pusat perhatian bagi kalangan politisi karena jutaan warga negara yang memiliki hak konstitusi tidak dapat menggunakannya sebagaimana mestinya. Masyarakat yang merasa dilanggar hak konstitusinya oleh Pemerintah melalui kinerja KPU yang amburadul hanya bisa pasrah, sebab hanya itulah yang mereka bisa. Para politisi yang merasa dicurangi oleh pelanggaran tersebut sibuk membentuk aliansi-aliansi untuk menuntut pemerintah dan KPU yang nyata-nyata telah melanggara hak konstitusi warga negara yang notabene juga melanggar hak asasi manusia.

            Sebenarnya, jauh dari riuh-rendah persoalan di atas yang menjadi pokok persoalan sebenarnya adalah kualitas sumber daya manusia yang mengelola di pemerintahan dan para personel KPU. Pemerintah dengan segala kekurangannya (pendanaan) mempercayakan pemutakhiran data kepada orang-orang yang tidak berkualitas. Ini dimungkinkan sebagai akibat dari pendanaan atau honorarium yang rendah, sehingga hanya memungkinkan merekrut personel yang juga berkualitas rendah. Dari pihak KPU sendiri pun tidak kalah mirisnya. Personel KPU pusat yang sebagian besar adalah orang-orang baru (tidak punya pengalaman) membuat mereka sulit memahami setiap tahapan-tahapan pemilu dalam waktu yang singkat. Kesulitan dalam memahami kerja KPU ini disebabkan kualitas sumber daya manusian para personelnya ‘kurang’ dalam bidang pemilihan umum.

            Pertanyaan yang ironis muncul dari peristiwa itu: apakah benar sumber daya manusia Indonesia minus (rendah)?

 

Para jenius

            Bangsa Indonesia sebenarnya adalah sebuah bangsa yang kaya raya dalam banyak hal. Selain sumber daya alam yang melimpah, sumber daya manusianya juga berlimpah. Banyak orang-orang jenius yang asli indonesia yang terus mendedikasikan hidupnya untuk kejayaan Indonesia, meskipun penghargaan untuk mereka sangat minim sekali. Penghargaan yang dimaksudkan disini adalah penghargaan dalam bentuk peningkatan kesejahteraan mereka. Pemerintah tidak bisa menghadirkan kesejahteraan untuk orang-orang jenius yang pada hakikatnya bisa mengancam kesinambungan human resources yang handal untuk Indonesia ke depannya.

            Sangat sedikit orang-orang jenius yang mampu bertahan untuk tetap berada di dalam negeri dalam kondisi yang serba kurang karena kurangnya perhatian pemerintah. Banyak dari mereka yang eksodus ke luar negeri demi melangsungkan kehidupan keilmuan mereka dan juga taraf kesejahteraan mereka tentunya. Brain drain adalah sebuah kosakata yang akhir-akhir ini mencuat sebagai akibat dari maraknya eksodus orang-orang jenius ke luar negeri demi peningkatan taraf kehidupan mereka.

            Memang brain drain ini pada umumnya menerpa negara-negara yang sedang berkembang sebagai respon terhadap negara yang berkembang. Brain drain menjadi problematika dan tantangan bagi semua negara berkembang untuk mampu menampung para jenius tadi agar tetap eksis membangun bangsanya secara langsung. Bermigrasinya para jenius ini umumnya menuju tempat-tempat yang menjanjikan atau memberikan berbagai keunggulan dan kesempatan ( land of opportunity). Dan akhir-akhir ini semakin banyak profesional (orang-orang berpendidikan tinggi, berbakat dan terlatih) terbaik negara-negara berkembang hijrah atau meninggalkan negaranya yang miskin ke negara-negara maju (negara-negara industri) seperti Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan Australia. Mereka itu adalah para ilmuwan, informatisi (ahli ICT), arsitek, insinyur, akademi, dokter, dan para ahli lainnya. Peristiwa ini lebih dikenal dengan istilah brain drain. Dimana peristiwa Brain drain ini merupakan kerugian besar bagi negara yang ditinggalkan.

 

Urbanisasi

            Brain drain ini mirip dengan proses urbanisasi yaitu perpindahan penduduk dari desa ke kota-kota besar karena alasan ekonomi. Berbondong-bondong penduduk desa hijrah ke kota, karena mereka kesulitan hidup di desa yang hanya mengandalkan hidup dari lahan pertanian yang semakin hari semakin kurang kesuburannya. Selain itu, para penduduk desa yang mempunyai potensi pendidikan yang lumayan pun turut hijrah ke kota yang berakibat pada berkurangnya penduduk yang mau mengelola lahan-lahan pertanian. Kota sebagai medan magnet untuk kesejahteraan rakyat desa.

            Begitupun dengan fenomena brain drain ini, kalau tidak sesegera mungkin diatasi oleh pemerintah akan berakibat fatal bagi negera kita sendiri. Para pemikir bangsa yang handal akan berbondong-bondong meninggalkan Indonesia yang dianggapnya miskin, tidak menjanjikan bahkan tidak mempedulikan mereka. Mereka berbondong-bondong pergi ke land of opportunity yang mereka impikan. Bisa dibayangkan, kelak orang-orang yang mendiami negara ini adalah mereka yang tidak mempunyai kemampuan, alias negara yang berpredikat ‘berpenduduk oon’ semua. Sebab orang-orang yang pintar hijrah meninggalkan kampung halamannya, sementara kampung halaman tadi harus diurus, dibangun dan terus dibina.

            Dalam memperingati hari pendidikan nasional tahun2009 ini sepertinya kita harus memikirkan jalan keluar yang benar-benar mampu membendung arus eksodus para jenius ke negeri orang yang jauh lebih makmur dari negeri kita. Kita bisa memulainya dengan memberikan layanan yang plus kepada para pemikir bangsa yang jenius, terutama kepada para calon-calon pemikir Indonesia di masa depan.

            Bagaimana pun kita tidak rela, bangsa ini terus digerogoti semua sumber daya yang kita miliki. Mulai dari sumber daya alam yang digerogoti oleh pihak-pihak asing hingga sumber daya manusia yang disedot bangsa asing. Sumber daya alam yang melimpah itu terkuras hanya untuk segelintir orang-orang Indonesia yang pandai menjilat para investor asing, sedangkan rakyat kebanyakan hanya mendapat ampas dari proses perekonomian mereka. Sumber daya manusia Indonesia yang juga berlimpah terkikis oleh ketidakmampuan kita membina mereka untuk tetap eksis di negeri sendiri. Mereka tidak mampu terus bertahan di sini dengan fasilitas keilmuan yang serba minim, taraf kesejahteraan yang tak sebanding dan pelayanan kesehatan yang tragis.

            Tantang Pendidikan Nasional di Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei tahun 2009 adalah bagaimana Pemerintah mampu mengurangi tingkat eksodus para jenius ke luar negeri dan terus meningkatkan kualitas pendidikan nasional secara riil? Bukan hanya melulu meningkat passing grade setiap tahunnya hanya untuk meraih peningkatan semu dunia pendidikan nasional. Kepada para rekan-rekan guru saya ucapkan selamat Hari Pendidikan Nasional tahun 2009 dan tetaplah menjadi pahlawan bangsa dengan jasa yang semakin nyata.

 

Suyadi, SPd., M.A.

Alumnus University of Pune, India

Pemerhati Masalah Pendidikan, Sosial dan Politik    

Posted by Yadie at 03:13:22 | Permalink | No Comments »

Christian Dior Bag, thank you

Thank you very much on your respect to my blog. I respect on that words, saying my blog is an attractive blog. THis message remind me to write and up to date my news, in my blog. And I offer you to put your ad in my blog. This blog is also spread all over the world as I have friends from many countries.

Thank you also I deliver to Mr. Smith who entitled my blog as one of the interesting blog and variative blog, I write in both languages, Indonesian and English. Now, let me know from what country are you?

To you both: keep going reading my blog.

Thank you.
Suyadi

Posted by Yadie at 02:55:19 | Permalink | No Comments »

Wednesday, March 25, 2009

Senjata Suharto

INI adalah bagian terakhir dari pembicaraan antara Soeharto dan Richard Nixon, Mei 1970 di Gedung Putih.

Pada bagian ini, Nixon menguji pandangan Soeharto mengenai peranan Amerika Serikat di Indochina.

Sementara Soeharto terus mendesak agar Amerika Serikat memberikan bantuan militer kepada Indonesia. Karena tanpa itu Indonesia tidak akan mampu membantu Kamboja, yang artinya tidak dapat ikut dalam program besar menghalangi komunisme.

Soeharto bersedia mengirimkan peralatan perang buatan Rusia yang dimiliki Indonesia ke Kamboja, selama Amerika Serikat bersedia menggantinya dengan peralatan perang yang baru.

Kelanjutan dari Ingin Membantu Kamboja, Tapi Tak Punya Senjata, Nixon: Manuver Rusia dan China bisa Bangkitkan PKI, Rusia dan China Tahu Kelemahan Indonesia, dan Soeharto: Mahasiswa Mendukung Orde Baru yang juga dimuat di www.myRMnews.com.

“Ada pihak yang mengatakan bahwa tidak ada bedanya Kamboja dikuasai Vietnam Utara atau tidak. Menurut Anda apa yang akan terjadi bila Vietnam Utara yang mengontrol Kamboja,” tanya Nixon, entah berdiplomasi, entar basa-basi.

Kamboja akan menjadi basis subversi, itu sudah pasti, jawab Soeharto. Juga basis infiltrasi ke negara lain seperti Thailand, Malaysia dan Indonesia. Kontrol Vietnam Utara atas Kamboja akan mempersulit upaya Vietnamisasi.

Lalu Nixon menegaskan bahwa negaranya tidak punya desain apapun untuk Kamboja. Yang ingin dilakukan Amerika saat ini adalah menghancurkan basis (komunis) di Kamboja dan menarik mundur pasukan dari sana. Bila Vietnam Utara tetap bertahan di Kamboja, maka Vietnam Selatan lah yang harus menghadapi.

Nixon bertanya, mengapa banyak kalangan yang keberatan dengan kehadiran 40 ribu pasukan Vietnam Selatan di Kamboja, tetapi tidak keberatan melihat kehadiran pasukan Vietnam Utara.

“Beberapa orang menilai pemerintahan Kamboja adalah boneka Amerika. Tetapi sebetulnya kami memainkan peranan yang sama seperti di Indonesia ketika Anda jadi presiden. Kedutaan kami dalam kedua kasus ini kecil dan tak punya peranan dalam perubahan pemerintah. Jadi juga penting bila Kamboja menerima bantuan moral dan material dari negara-negara Asia. Kami ingin pandangan tentang pemerintahan Kamboja boneka Amerika dapat segera hilang,” ujar Nixon.

Soeharto masih diam. Ia membiarkan Nixon melanjutkan uraiannya.

“Ada juga yang menilai perang di Kamboja sudah berlangsung sangat lama, dan sekarang saatnya untuk melemparkan handuk. Kami tidak akan melakukan ini.”

Dia juga mengatakan Amerika tidak punya rencana khusus untuk Vietnam Selatan. Tetapi, membiarkan pasukan Vietnam Utara yang juga berpangkalan di Kamboja akan membuat keadaan semakin buruk. Vietnam Utara akan masuk ke Vietnam Selatan, dan akibatnya akan begitu buruk bagi 17 juta rakyat Vietnam Selatan.

Intinya Amerika Serikat beraksi di Kamboja sekadar untuk mengamankan pasukan Amerika di sana dan menjamin Vietnamisasi. “Musuh tahu bahwa Amerika akan beraksi, dan akan terus beraksi bila terancam.”

Nixon pun memuji perhatian Indonesia pada krisis Kamboja. Konferensi di Jakarta sebelumnya mengenai masalah ini jelas berdampak positif bagi pandangan negara-negara Eropa dan Asia, juga rakyat Amerika.

“Bantuan Indonesia untuk Kamboja di mata dunia akan dapat diterima. Peralatan perang Anda yang sudah tua dari Rusia dapat diberikan kepada Kamboja dan kami akan menggantinya.”

Mendapat angin segar ini, Soeharto langsung bersuara.

“Kami akan mempertimbangkan bantuan material (peralatan perang buatan Rusia) untuk Kamboja, tetapi pertama-tama kami inigin mendapatkan kepastian tentang penggantiannya dengan mempertimbangkan kapasitas kami yang terbatas. Sebagai seorang tentara (military man) saya memahami bahwa operasi militer akan memakan waktu lama. Karena itu, saya mengerti kepentingan Amerika Serikat dan Vietnam Selatan dalam operasi di Kamboja.”

Kissinger yang sejak tadi diam, kini bersuara. Dia berusaha menkonkretkan arah pembicaraan Soeharto. Kepada Nixon, Kissinger berkata, “Tuan Presiden, saya rasa maksudnya adalah itu (operasi militer) akan memakan waktu yang sangat panjang.”

Dengan demikian, maksud kalimat Kissinger, bantuan militer untuk Indonesia harus secepat mungkin digelontorkan sehingga Indonesia bisa segera mengirimkan peralatan militer buatan Rusia yang sudah tua ke Kamboja.

Mendengar penjelasan tambahan dari Kissinger, Nixon menambahkan pihaknya akan segera mengkretkan pembicaraannya dengan Soeharto hari itu.

Hal pertama yang akan dilakukan adalah mengenai bantuan militer (military assistance) seperti yang sudah dibicarakan Soeharto dengan Dutabesar Amerika Serikat di Jakarta, Galbraith. Dan kedua mengenai kemungkinan pengiriman bantuan peralatan perang (buatan Rusia) dari Indonesia untuk Kamboja yang diikuti “the replacement of these old stocks” dengan peralatan perang made in Amerika.


Posted by Yadie at 03:22:10 | Permalink | No Comments »

Suahrto dan Ford

KEPUTUSAN Portugis meninggalkan Timor Leste adalah hal ketiga yang disampaikan Soeharto saat bertemu Presiden Amerika Serikat Gerard Ford, di Camp David, Maryland, 5 Juli 1975.

Pertemuan berlangsung tengah hari. Menurut dokumen Gedung Putih yang dirilis oleh the National Security Archive sehari setelah kematian Soeharto akhir Januari lalu, di ruang pertemuan Soeharto hanya ditemani seorang penterjemah bernama Widodo. Adapun Ford ditemani penasihat pertahanan Gedung Putih Letnan Jenderal Brent Scowcroft. Menteri luar negeri Henry A Kissinger bergabung 15 menit sebelum pertemuan berakhir.

Tulisan ini juga dimuat di myRMnews.com.

Itu adalah kunjungan resmi kedua Soeharto ke Amerika Serikat. Lima tahun sebelumnya, Mei 1970, dia bertemu Presiden Nixon di Gedung Putih. Seperti dalam pertemuan di Gedung Putih, dalam pertemuan di Camp David, Soeharto juga menyampaikan sejumlah hal yang serupa. Mulai dari keamanan regional dan pengaruh komunisme, sampai bantuan peralatan militer untuk Indonesia.

Yang agak berbeda, ketika menyampaikan soal keamanan regional dan pengaruh komunisme kali ini Soeharto membawa kasus Timor Leste.

“Menurut UUD 1945, kami tidak akan menggunakan jalan agresi terhadap negara lain. Dengan demikian Indonesia tidak akan menggunakan kekuatan militer untuk merebut teritori negara lain. Dengan rasa hormat kepada Timor Timur, kami mendukung proses dekolonisasi Portugis di sana lewat jalan penenetuan nasib sendiri oleh rakyat Timor Timur,” kata Soeharto memulai hal ketiga yang ingin dibahasnya dalam pertemuan itu.

Dia melanjutkan kalimatnya.

Sebetulnya, menurut Soeharto, ada tiga kemungkinan berkaitan dengan masa depan Timor Timur. Pertama merdeka sebagai negara yang independen; kedua tetap bersama Portugis; dan ketiga, bergabung dengan Indonesia.

“Dengan wilayah yang begitu kecil, sebuah negara independen akan menghadapi kesulitan. Sementara bila tetap bersama Portugis, mereka akan menghadapi hambatan besar mengingat Protugis berada begitu jauh. Kalau mereka mau bergabung dengan Indonesia sebagai sebuah negara yang independen, jelas tidak mungkin. Karena Indonesia adalah negara kesatuan. Satu-satunya jalan adalah integrasi dengan Indonesia,” urai Soeharto.

Ford lalu buka mulut. “Apakah Portugis sudah menentukan kapan rakyat Timor Timur boleh mengambil keputusan mengenai masalah ini?” tanyanya pada Soeharto.

Sama sekali belum ada waktu yang ditentukan, jawab Soeharto. Tetapi, sambungnya, hal itu tergantung pada kesepakatan rakyat Timor Timur.

“Persoalannya adalah, pihak yang menginginkan merdeka sebagai negara independen dipengaruhi oleh komunis. Dan semua yang menginginkan integrasi dengan Indonesia menghadapi tekanan dari kelompok yang hampir komunis ini,” masih kata Soeharto.

“Saya ingin menegaskan, bahwa Indonesia tidak berkeinginan mencampuri proses penentuan nasib sendiri di Timor Timur. Tetapi bagaimana menghadapi hal itu bila mayoritas rakyat Timor Timur ingin berintegrasi dengan Indonesia,” tutup Soeharto.

Dalam dokumen itu Ford disebutkan tidak mengucapkan satu kata pun mengenai persoalan Timor Timur. Ford hanya berkata bahwa pihaknya sangat menghargai pertemuan tukar pandangan itu. Terutama yang berkaitan dengan pandangan Soeharto atas krisis di Indochina.

Setelah pertemuan itu, bantuan militer Amerika Serikat untuk Indonesia mengalir deras. Tanggal 5 Desember 1975, Ford dan Kissinger bertemu Soeharto di Jakarta. Sehari kemudian, militer Indonesia merengsek masuk ke Timor Timur.

Dimulailah invasi yang kelak menjadi kerikil di dalam di sepatu Indonesia.

Posted by Yadie at 01:54:29 | Permalink | No Comments »

Kudeta Supersemar

 Tragedi Soekarno; Dari Kudeta Sampai Kematiannya

Tahun 1965 menjadi titik nadir yang menggoreskan sejarah kelam dalam kehidupan Soekarno sekaligus bangsa Indonesia. Di mana ketika itu, pertentangan dan perebutan kekuasaan yang tidak lagi mengenal kata ‘kemanusiaan dan keadilan’. Naluri politik bergerak penuh ambisi, mendulang kepentingannya sendiri, bertengger dalam tampuk kekuatan untuk bersama-sama mendepak dan mengganyang Soekarno.
Peralihan kekuasaan tahun 1965 hingga lima tahun kemudian, telah melahirkan peristiwa mengenaskan, yakni terbunuhnya setengah juta orang dalam suasana hiruk pikuk politik awal Orde Baru. Soekarno sempat menyerukan, bahwa sedang terjadi pembunuhan massal di Jawa Timur dan menginginkan pembantaian tersebut segera dihentikan. Namun ironis, seruannya tidak digubris, karena pihak keamanan telah disabotase oleh kendali kuasa yang terselubung.

Buku yang ditulis oleh Reni Nuryanti ini akan membawa kita menelisik kembali bagaimana kronologi lengsernya presiden pertama Indonesia hingga akhir hayatnya. Tragedi pergolakan di penghujung kehidupan Soekarno hingga saat ini masih mengalirkan berbagai kontroversi dan belum bermuara pada kejernihan sejarah. Buku ini mengupas berbagai fakta mengenai setting politik yang melahirkan rekayasa sosial sehingga mampu mengikis habis ketangguhan Sang Proklamator. 
Intrik politik mulai menggejala ketika komposisi kabinet dalam penerapan sistem demokrasi parlementer yang digagas Soekarno mengalami jatuh bangun. Bagi oknum-oknum yang telah lama menjadi musuh dalam selimut, kondisi semacam itu memberikan angin segar untuk segera memanfaatkan kedudukan serta mencari cela politik. Hal ini membuat Soekarno mulai berpikir untuk membuat semacam perisai politik bagi kelangsungan pemerintahannya.
Salah satu pihak yang memberikan dorongan kuat untuk merekonstruksi tata pemerintahan adalah Partai Komunis Indonesia (PKI), yang saat itu diketuai oleh Aidit. Dari sinilah terjalinnya kesamaan visi antara Aidit yang mengusung faham komunis dengan konsep yang telah mengendap dalam pemikiran Soekarno yakni NASAKOM (Nasionalisme, Agama, dan Komunis). 
Soekarno memang bukan seorang komunis, tetapi ide-ide kerakyatan yang terkandung dalam pemikiran komunis dipahami sebagai salah satu komponen yang mampu merubah kondisi bangsa Indonesia yang saat itu memang tidak stabil. Pada gilirannya, keberadaan PKI yang diback-up Soekarno tumbuh pesat dan menjadi partai terkuat.
Sementara itu, pihak militer juga tidak kalah strategi untuk bersaing pengaruh dalam kancah politik. Pemberlakuan sistem Dwi Fungsi ABRI membuat tangan besi militer mampu bergerak dalam sektor politik. Kenyataan PKI yang berkembang pesat menimbulkan kekhawatiran di kalangan militer, utamanya Angkatan Darat (AD). Karena bila pemilu digelar, PKI akan menang mutlak dan otomatis yang akan menjadi presiden juga dari orang PKI. Demi menghadang laju kekuasaan PKI, pihak AD dengan menggandeng Partai Nasional Indonesia (PNI) berhasil mengusulkan dan menjadikan Soekarno sebagai Presiden Seumur Hidup, melalui hal ini berarti pemilu ditiadakan.
Akan tetapi, implikasi dari model politik semacam itu ternyata memicu konflik yang melahirkan beragam tindakan anarkis. Dengan sama-sama menggunakan Soekarno sebagai ‘bamper’, kemelut antara AD dengan PKI semakin menegangkan sehingga rangkaian pemberontakan semakin meluas dan pada puncaknya, tragedi besar pun terjadi dalam Gerakan 30 September 1965 ( G 30 S). Semua daya upaya yang dikerahkan Soekarno untuk menajamkan kekuatan demokrasi terpimpin akhirnya tergerus oleh beragam intrik politik dan kepentingan golongan. Akibatnya, Soekarno terjerembam dalam kubangan tuduhan dan hinaan. 
Sementara itu, kondisi masyarakat yang sangat tidak stabil dengan mudah dapat dimanfaatkan. Demonstrasi dan pembunuhan massal merebak sepanjang Desember 1965 hingga awal Maret 1966. Rakyat yang sudah terprovokasi makin membabi buta. Para pemuda dan Mahasiswa menuntut tanggung jawab pemerintah atas kerusuhan yang makin meluas. 
Maka dengan pertimbangan situasi negara yang semakin gawat, Soekarno akhirnya menandatangani sebuah surat yang dikirim oleh Soeharto melalui 3 utusannya yakni Andi M. Yusuf, Basuki Rachmat, dan Amir Machmoed. Surat yang kemudian dikenal sebagai Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) itulah yang menjadi tombak legitimasi untuk menggulingkan Soekarno.
Dalam situasi konflik tak kunjung reda, MPRS menggelar Sidang Istimewa. Dalam sidang tersebut Supersemar makin diteguhkan, pidato pertanggungjawaban Soekarno yang tertuang dalam Nawaksara berikut pelengkapnya ditolak oleh MPRS. Praktis pada saat itu Soekarno kehilangan jabatannya sebagai orang nomor satu di Indonesia. Peralihan kekuasaan jatuh kepada pemegang Supersemar yaitu Soeharto.
Pasca itu, konsekuensi berat masih harus diterima Soekarno karena tuduhan atas keterlibatan peristiwa G 30 S. Meski tanpa bukti, rezim Orde Baru memindahkan Soekarno dari Jakarta ke Istana Bogor sebagai tahanan politik. Dalam pengawasan yang ketat, kondisi kesehatan Soekarno mulai menurun dan semakin rentan terhadap penyakit. Soekarno memutuskan untuk pindah ke Batu Tulis karena muncul surat keputusan dari pemerintah untuk segera mengosongkan Istana Bogor.
Selang beberapa bulan, Soekarno diberikan izin oleh pemerintah untuk tinggal di Wisma Yaso Jakarta. Keadaan Soekarno tetap tidak berbeda, bahkan interogasi makin sering dilakukan oleh Kopkamtib. Akibatnya, kondisi psikis dan fisik Soekarno kian memburuk. Pertengahan tahun 1970 Soekarno mengalami gangguan kesadaran, metabolisme tubuhnya rusak, sehingga diputuskan untuk dibawa ke RSPAD (Rumah Sakit Angkatan Darat Gatot Subroto). Hanya selang beberapa hari, keadaan penyakit yang teramat parah membuat Soekarno tidak dapat lagi bertahan, pada 21 Juni 1970 Soekarno menghembuskan nafas terakhir.

Posted by Yadie at 01:32:47 | Permalink | No Comments »