Friday, January 22, 2010

CERPEN

Pertanyaan Terakhir
Oleh: Suyadi

“Tanggal berapa sekarang, Ver?” tanya Pak Min kepada Very seorang, anaknya yang sedang menunggunya di salah satu ruang rumah sakit swasta yang cukup terkenal di kota ini. Very yang ditanya tidak langsung menjawab, sebab dia sendiri kurang begitu memperhatikan penanggalan. Bahkan akhirnya pertanyaan itupun tak terjawab oleh Very. Sebuah pertanyaan yang saat ini terus terngiang di telinga bagai aliran air di sungai yang sedang musim penghujan. Terus mengalir deras membasahi gendang telinga, terus turun ke kerongkongannya dan bermuara di dalam hatinya. Aliran yang membentuk penyesalan itu kini membatu di hati Very yang dirundung sedih.
Betapa tidak. Pertanyaan itu merupakan pertanyaan terakhir seorang ayah kepada anaknya yang tidak berjawab.
*****
Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan tahun 1430 Hijriah atau tahun 2009 Masehi menjadi awal datangnya musibah yang pasti akan mengunjungi setiap kehidupan manusia. Awal yang menjadi tanda berakhirnya hubungan antar manusia. Awal yang menjadi pertanda mulai menciutnya tali ikatan. Istri. Anak. Cucu. Menantu. Hingga sanak keluarga yang tidak terjumlah bilangannya.
Setelah 16 hari terbaring di ruang rumah sakit tersebut, Very baru menyadari bahwa ada seorang teman akrabnya yang belum diberitahu tentang kondisi ayahnya saat ini. Di hari ke-16 itu sang ayah masih membutuhkan satu kantong darah sebagai penyuplai darah yang belakang berkurang karena penyakit yang diderita sang ayah. “Ayahku membutuhkan tambahan darah A setelah 16 hari terbaring di rumah sakit ini.” Ia memulai ceritanya kepada Zaidir. Ia berharap, Zaidir mempunyai golongan darah yang sama dengan ayahnya. Zaidir yang berdarah B itu ternyata tidak cocok untuk ayahnya yang berdarah A.
Meskipun Zaidir berniat untuk mendonorkan darahnya kepada ayah sohibnya itu, namun karena ketidakcocokan itu membuatnya tidak mampu menolong ayah sohibnya tersebut. Di hari yang ke-16 itu, Very disibukkan oleh pencarian darah. PMI yang katanya sebagai pemasok cadangan darah, ternyata mengalami kekosongan. Mlompong. Bagai pintu yang baru saja dibobol maling dengan serakahnya. Tak tahu kemana raibnya cadangan darah itu. Rasa kesal dalam diri Very tidak mampu membuatnya mendapatkan cadangan darah.
Zaidir mencoba menghubungi beberapa orang temannya untuk dapat mendonorkan darahnya. Sayang seribu sayang. Nihil. ”Maaf Dir. Aku lagi kurang enak badan. Jadi nggak bisa donor”. Salah satu alasan yang didapat dari temannya. Tengsi darah lagi rendah. Aku tidak pernah donor jadi takut. Dan lain sebagainya menjadi alasan gagalnya Zaidir menolong ayah sahabatnya itu. Begitupun dengan Very. Ia gagal mencari kekurangan darah sebanyak 250cc lagi. Padahal sebelumnya sudah 5 kantong darah disalurkan ke dalam tubuh ayahnya. Minus satu kantong lagi.
*****
Rasa penyesalan masih membayang dimatanya. Berulangkali pertanyaan itu berdengung ditelinganya. Sebuah pertanyaan yang tak berjawab. Baru dia sadari bahwa setiap manusia yang terlahir di dunia telah mempunyai janji sendiri-sendiri. Dan setiap manusia tidak bisa mengingkari janjinya. Ketika perjanjian itu telah tiba, maka tak seorang pun dapat menundanya. Demikianlah yang ia rasakan. Pertanyaan itu seperti berhubungan dengan perjanjian sang ayah dan Sang Pencipta.
Tanggal yang ditanyakan oleh ayahnya itu pertanda bahwa beliau sudah mengetahui bahwa perjanjian itu sudah tiba. Hanya sedikit ingatan saja yang ia butuhkan untuk kembali mengingatnya. Bertanya kepada orang lain hanyalah suatu pelajaran bagi orang yang akan ditinggalkannya. Ah, seandainya aku memberikan jawaban itu apakah mungkin ayah akan bahagia di sana karena telah mengetahui dengan pasti tanggal perjanjiannya dengan Sang Pencipta. Tapi aku tak menjawabnya. Apakah ia akan bersedih di sana karena tidak mendapat jawaban dari orang yang telah dibesarkannya dengan kasih sayang seorang ayah. Seorang anak yang telah dibesarkannya dengan curahan jiwa raga dan segenap kemampuannya. Tapi anak itu tak mampu memberikan jawaban yang sepele. Sebuah tanggal. Mengingatkan akan perjanjiannya. Desah itu masih membasah dibibir Very. Berdengung nyaring di telinganya.
Terlihat ketiga saudara laki-lakinya tetap tegar. Tabah. Kuat. Tak terlihat cucuran airmata disana. Hanya wajah-wajah sedih yang kaku. Ada kerelaan yang terpaksa disetiap mata-mata itu. Tapi tidak untuk Very. Kedua mata itu mengalir deras airmata duka, ketidakrelaan masih nyata di matanya, penyesalan masih menyelubungi keberadaannya. Tangisan tanpa isak itu terasa bagai menyayat di relung hatinya. Tak bersuara. Perih.
Keperihan itu terasa semakin dalam manakala dia dan ketiga saudara laki-lakinya menggosok-gosok tubuh ayahnya sebersih mungkin. Kewajibannya untuk memandikan ayahnya itu membuatnya semakin tersayat. Mulai dari kaki digosok-gosok setiap celahnya, dibersihkan setiap kotoran yang melekat. Tubuh itu tidak berdaya lagi. Disetiap kali dia membersihkan tubuh itu, terlintas setiap kenangan. Mulai dari kenak-kanak hingga akhirnya dia tidak mampu memberikan jawaban kepada ayahnya itu. Sebuah jawaban yang dinantikannya. Berakhir tanpa jawaban. Sekarang? Hanya ketiga anaknya yang mampu membersihkan seluruh tubuh itu sebelum dilanjutkan pada prosesi berikutnya. Mengkafani.
Dihari yang ke-17, di pagi yang sunyi itu tubuh itu menggeliat. Kepanasan hingga akhirnya tak mampu lagi menggerakan tubuhnya. 8 September 2009 menjadi hari yang kelabu bagi keluarganya. Seandainya dia tahu ketika ayahnya bertanya tentu dia akan menjawab; saat ini tanggal 7 September 2009. Persis satu hari sebelum kepergian ayahnya, ia bertanya tentang tanggal itu.
Tak terucap kata-kata lagi ketika seluruh pelayat mengiringi kepergiannya menuju ke tempat peristirahatan terakhir sang ayah tercinta. Membisu bagai malam yang sunyi tanpa semilir angin berhembus. Tanpa suara binatang malam bernyanyi. Siang itu bagai malam dipenghujung hari. Sebelum menyongsong hari kehancuran. Demikianlah yang saat itu Very rasakan. Dikebisingan siang hari itu, dia kesunyian. Suara ambulan yang mengantar jenazah itu tak memasuki gendang telinganya. Gendang telinga itu disesaki dengan pertanyaan ayahnya. Tepat sehari sebelum kepergiannya.
*****

Kesunyian itu semakin membiru manakala ia dan kedua saudara laki-lakinya memasukkan tubuh yang pernah membimbingannya dengan kasih sayang itu ke dalam liang lahat yang sempit. Butiran air bening terus menggenang dikedua matanya meskipun tak sampai jatuh ke bumi. Tapi kedua lengan bajunya itu basah oleh airmata yang selalu disekatnya agar tidak jatuh membasahi tubuh ayahnya yang kini tak berdaya itu. Anak-anak yang dulu disayanginya itu kini mengembalikan tubuhnya ke dalam liang lahat yang sempit. Merekalah yang menguburkannya. Sebagai rasa kasih dan sayang serta hormat yang terdengar ironi.
Tubuh itu terbaring dalam kesunyian tepat duabelas hari sebelum Idul Fitri 1430 H. Meskipun tak mendapat jawaban atas pertanyaannya, dia ikhlas melepaskan mereka semua seraya menunggu pertanyaan yang akan diajukan-Nya.
*****

Didedikasikan untuk sahabatku Very Darmaji
Kota Jambi
8 September 2009

Posted by Yadie in 03:36:29 | Permalink | No Comments »

PERUNTUNGAN PILGUB 010

Peruntungan Pilgub 2010
Oleh: Suyadi, SPd., MA
“Luberjurdil” singkatan dari “langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil” merupakan asas pemilihan umum yang sejak reformasi telah digulirkan dibumi pertiwi ini. Arus reformasi yang berhasil mendobrak tirani kemapanan yang disalahartikan oleh penguasa saat itu menjadi ujung tombak bagi terlaksananya demokratisasi di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia saat ini.
Kemapanan yang membungkam hak-hak individu setiap warga atau yang lebih dikenal hak asasi manusia dalam segala bentuk dasarnya. Pembungkaman yang saat ini bukan jamannya lagi untuk diteruskan. Pembungkaman itu telah sirna seiring dengan arus reformasi yang terus mengalir bagai air bah. Namun, reformasi yang awalnya bagai air bah itu, kini mulai berkurang kekuatan arusnya seiring dengan bergemerincingnya reformasi yang beraroma uang. Penyalahartian makna “reformasi” terjadi saat ini. Sama halnya dengan penyalahartian “kemapanan” pada era orde baru dulu. Demokratisasi itu bergeser maknanya menjadi “democracy has a price”, demokrasi itu pasti ada harganya.
Lantas apa hubungannya antara dua buah penyalahartian/kesalahpahaman tersebut di atas dengan Pilgub Provinsi Jambi tahun 2010?
Sejak Indonesia diproklamasikan kemerdekaannya oleh Sukarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia, kita selalu bangga mengklaim bahwa kita adalah negeri yang demokratis. Meskipun selalu ada kesalahpahaman dalam mengartikannya dari generasi ke generasi. Berkat kesalahpahaman atau kesalahartian itulah yang selalu menyebabkan negeri tercinta ini dirundung duka kemiskinan yang tak terentaskan. Kesalahpahaman yang cenderung berulang yang hanya beda-beda tipis dengan kesalahan para pendahulunya. Setiap kesalahan itu selalu dikoreksi dengan cara merubah sistem yang bersifat artificial belaka. Tidak/belum menyentuh kepada makna proses demokrasi yang hakiki hingga menyentuh kerelung hati setiap individu warga bangsanya.
Dalam sistim pemilu yang dulunya hanya “luber” lalu berubah menjadi “luberjurdil” merupakan bentuk perbaikan yang dilakukan oleh anak bangsa. Sayangnya, menurut penulis perubahan itu hanya bersifat artificial, yang penting ada perubahan. Perubahan yang lebih cenderung procedural tidak akan memberikan makna hakiki dengan demokratisasi di negeri ini. Beberapa hasil pemilu sejak jaman orde baru hingga orde reformasi ini masih menyisahkan cacat, demokrasi yang bopengan. Demokrasi dan atau reformasi masih dipahami dengan uang. Memang ironis.
Politik uang pada setiap hajatan pemilu menjadikan demokrasi kita bopeng-bopeng. Pada tataran masyarakat awam demokrasi selalu dimaknai dengan pesta penghamburan uang oleh para kontestan peserta pemilu itu sendiri. Masyarakat awam dengan semangat yang meluap-luap siap menyongsong kedatangannya, baik pemilu legislative, presiden, ataupun pilkada. Terbayang sebaran “money politic” dimata mereka. Sebab kesalahartian para politikus terdahulu dalam memaknai demokrasi dengan uang sudah terlanjur diajarkan dan tertanam dihati masyarakat: tidak ada suara tanpa fulus. “Everybody has price” istilah yang lebih popular dikalangan para koruptor, kalangan mereka yang suka jual-beli jasa dalam segala hal.
Pilgub 2010
Menarik menyimak tulisan Drs.H.Navarin Karim, M.Si pada harian Jambi Ekspres tanggal 30 Desember 2009 yang menyatakan bahwa saksi mempunyai peran strategis dalam setiap tahapan pemilihan yang dimulai dari TPS hingga akhir penghitungan. Terlebih lagi yang menyatakan bahwa setiap saksi itu tidak bisa melakukan tugasnya tanpa ada insentif atau uang. Diyakini tidak ada yang gratis di negeri ini terlebih lagi untuk urusan politis. “No free lunch” untuk kalangan pebisnis.
Saat ini pemilihan umum baik pilkada maupun pileg telah menjadi ajang bisnis. Sama halnya seperti praktek-praktek biro jasa yang ditawarkan oleh para peserta pemilu dan masyarakat yang menjadi kliennya, yang siap menerima layanan jasa setelah mereka mendapat posisi, meskipun jasa itu tidak bisa diharapkan penuh dilayani setelah mereka terpilih.
Para calon gubernur maupun calon wakil gubernur adalah orang-orang yang siap melayani masyarakat seandainya mereka terpilih kelak. Meskipun kelak apabila mereka terpilih jasa yang dijanjikan itu tidak terlaksana, masyarakat tidak akan secara sungguh-sungguh menuntut layanan tersebut. Ini disebabkan ada semacam kesepakatan meskipun tidak tertulis di atas kertas: ada uang/barang ada suara. Untuk memantapkan kesepakatan itu sangat ditentukan oleh kerja keras para tim sukses di lapangan. Tim sukses ini adalah para prajurit dari para sang calon yang siap tempur hingga ke pelosok desa atau dusun sekalipun. Merekalah yang siap melontarkan setiap peluru dalam medan tempur pemilihan yang keakuratannya bisa diandalkan.
Kecermatan para tim sukses ini tidak bisa dihalangi oleh tim pemantau baik asing atau pun local, saksi bahkan Panwas sekalipun. Para pengawas pemilu tidak mempunyai kekuatan yang bisa diandalkan untuk menindaklanjuti setiap temuan pelanggaran di lapangan, sebab mereka hanya diberikan limit hingga batas tiga hari pelaporan sejak pertama kali kecurangan itu dilakukan. Waktu yang sangat minim untuk sebuah tindakan kecurangan pada pemilu. Namun yang demikian itu tertera didalam peraturan pemilu maupun pilkada.
Sangat diyakini pada pemilihan gubernur Provinsi Jambi kelak akan diwarnai dengan politik uang.
Peruntungan
Pemilihan gubernur Jambi tahun 2010 ini akan menjadi peruntungan baik bagi masyarakat maupun para calon itu sendiri. Sebenarnya peruntungan bagi para calon gubernur dan wakil gubernur sudah bisa dilihat dengan cara membaca jalan pikiran rakyat. Apakah kelak mereka bisa terpilih atau tidak? Tergantung dari peruntungan para calon itu sendiri dalam menyikapi watak masyarakat awam yang materialistis. Para calon yang realistis saja yang mampu memenangi pertarungan ini. Idealisme tidak bisa diandalkan dalam perhelatan ini.
Kekuatan partai pendukung hanya menjadi kepanjangan penyebaran amunisi setiap kandidat, meskipun demikian keakuratannya mendekati 60%. Tidak mutlak.
Para calon yang realistis akan menanggapi keinginan masyarakat dengan “materi” yang telah mereka persiapkan. Sementara para calon yang idealis akan menanggapi keinginan masyarakat itu dengan idealism of nihilism. Meskipun tetap meraih dukungan namun tidak mencukupi untuk menjadi pemenang dalam kontes pemilihan ini. “Democracy is all about money” kata mereka. Itulah sebuah harga dari suatu jabatan politis dinegeri yang masih gagap berdemokrasi seperti saat ini. Kegagapan yang menjadi kesalahan sejak lahirnya demokratisasi di negeri ini. “Mungkin” suatu saat nanti negeri ini akan menemukan jati diri demokrasi yang sejati bukannya demokrasi peruntungan yang datangnya seperti musim yang datang teratur setiap tahunnya tanpa mengubah pikiran dan hati setiap individu di dalamnya.

Suyadi, SPd., MA
Dosen Tetap ABA NH Jambi

Posted by Yadie in 03:31:14 | Permalink | No Comments »

Tuesday, December 15, 2009

News

Final Test will be held on first week of February 2010
All the pre-requirements needed to this test must be completed
a week before. For those who could meet the requirements must follow the final test.

Best Regard
Suyadi

Posted by Yadie in 04:50:34 | Permalink | No Comments »

News

Final Test will be held on first week of February 2010
All the pre-requirements needed to this test must be completed
a week before. For those who could meet the requirements must follow the final test.

Best Regard
Suyadi

Posted by Yadie in 04:50:26 | Permalink | No Comments »

Friday, December 11, 2009

News for Students

This is to inform you: for all presentation session in the classroom is going to be ended in the middle of December 2009. For students who is/are not collecting the assignments yet, please do not ignore this information. Contact me as soon as possible.

Suyadi, MA

Posted by Yadie in 03:27:05 | Permalink | No Comments »

KARAKTER PEMIMPIN

KARAKTER KEPEMIMPINAN NASIONAL
( Seri : Pendidikan Politik Rakyat )
Oleh : Drs. Abdul Rahman Kadir, MM
“ Dengan emosinya yang buruk, setiap pemimpin menguras energi banyak orang lain dengan membuat mereka cemas, tertekan, atau marah “. Birgitta Wistrand.
“ Pemimpin positif, yang bisa menularkan suasana hati positif kepada kelompok “, J.M. George dan K. Bettenhausen.

PENDAHULUAN

Berbagai literatur dalam dan luar negeri, yang kuno maupun yang mutakhir, yang tradisional maupun modern, yang sederhana maupun yang canggih, mengajarkan kepada kita bahwa seorang pemimpin harus selalu memiliki kelebihan dan keunggulan dari pada rakyatnya. Berikut ini petikan pendapat para pakar negara kepemimpinan :
“ Pemimpin adalah pengaruh “. John Maxwell deskripsi satu kata, singkat dan sederhana, yang menempatkan kepemimpinan dalam jangkauan setiap orang. Kepemimpinan bukan jabatan, posisi, atau bagan alir ( Flowchart ). Kepemimpinan adalah suatu kehidupan yang mempengaruhi kehidupan lain.
“ Karakter adalah kekuasaan “. Booker T. Washington, yang harus dipelajari dalam pelajaran pertama adalah kepemimpinan berwawasan luas dibangun dari karakter yang hakiki. Infrastruktur karakter yang baik sangat penting untuk mendukung tingkah laku ( behavior ) yang baik. Kepercayaan dan keterlibatan pengikut akan parallel dengan level karakter kita ( pemimpin ).
“ Karakter adalah hasil pembiasaan dari sebuah gagasan dan perbuatan, Stephen R. Covey: “. Taburlah gagasan, tuailah perbuatan. Taburlah perbuatan, tuailah kebiasaan. Taburlah kebiasaan, tuailah KARAKTER. Taburlah karakter, tuailah nasib “. The Seven Habits of Highly Effective People.
“ NASIB merupakan sisa dari rancangan”, Branch Rickey selanjutnya menyatakan : “Orang banyak membicarakan nasib bagus dan nasib jelek, jarang sekali keberhasilan ditentukan oleh PELUANG. Orang bilang; “ Nasib baik terjadi ketika peluang sesuai dengan persiapan “.
“ Gunakan kekuasaan untuk membantu orang. Kita diberi kekuasaan tidak untuk meraih tujuan pribadi, atau membuat pertunjukan terbesar di dunia, dan bukan untuk mendapatkan nama. Hanya ada satu kegunaan kekuasaan yakni membantu orang.” George Bush.

“ Sebagai aturan, ia yang punya INFORMASI terbanyak akan sukses paling gemilang dalam hidup “. Disraeli.
Pengembangan kepemimpinan adalah perjalanan sepanjang hidup, bukan kepergian singkat “. John Maxwell.
“ Jika pemimpin menunjukkan kecakapan, perhatian kepada orang lain secara TULUS, dan karakter yang terpuji, maka rakyat akan mengikuti.” T. Richard Chase.

KONDISI KEPEMIMPINAN NASIONAL SAAT INI

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mendiskreditkan siapapun yang memainkan peran kekuasaan saat ini, melainkan sebagai sarana mawas diri guna perbaikan perilaku kepemimpinan nasional agar mampu membawa bangsa Indonesia kejaman baru yang penuh persaingan. Di bawah ini fenomena yang dapat ditangkap, dirasakan, dilihat dan didengar :
Terjadi degradasi perilaku kepemimpinan nasional, yang ditandai dengan maraknya ; saling hujat, saling fitnah, provokasi, agitasi para pengikutnya, pengingkaran kebenaran, saling jegal, menjadi pengadu domba, menjadikan massa pengikutnya setia sampai mati tanpa peduli kebenaran, keadilan dan budaya, pokoknya membalas lawan tanpa etika, menjadi pemimpin kharismatik yang memiliki pengikut fanatik.
Para pemimpin sebagian besar tidak mencegah pengikutnya melakukan pelanggaran : konstitusi, norma agama, adat, sosial dan etika profesi. Bahkan norma dan tata pergaulan dunia/keprotokolan diterjang tanpa malu.
Tidak peka ( sensitive ) terhadap aspirasi masyarakat, bahwa rakyat memerlukan ketenteraman, kenyamanan dan keadilan bukan wacana politik yang terus meruncing.
Tidak melakukan pendidikan politik bagi para pengikutnya, dibuktikan dengan pemahaman yang sempit terhadap keputusan politik seperti ; memorandum, penyelesaian GAM, OPM dll.
Setelah duduk diberbagai jabatan negara ternyata masih memposisikan diri sebagai utusan golongan, parpol dan kelompoknya, sehingga kepekaan rasa nasionalisme-nya tipis. Bahkan cenderung primodial, etnosentris dan tidak berusaha menjadi politikus maupun negarawan multicultural atau kosmopolitan.
Paradigma dan mind-set yang kolusif, nepotis dan koruptif semakin menjadi. Konon melebihi tindak penyimpangan di jaman ORBA yang dikecam dan dijadikan agenda reformasi untuk diberantas,
Keteladanan berperilaku ; ucapan, pernyataan, diplomasi dan penyelesaian masalah mendasar yang dihadapi bangsa kurang. Sense-of crisis hampir-hampir punah karena dominasi kepentingan ( interest ) pribadi, kelompok, partai dan golongan, bisnis dan rasis.
Tidak dapat membedakan tindakan tegas terhadap pelanggaran kedaulatan negara dengan tindakan pelanggaran HAM, adanya pro dan kontra penindakan terhadap pemberontak dan kaum separatis. Para pemimpin yang bertanggung jawab seolah tak perduli, tapi justru mengomentari bidang tugas pemimpin lain yang tak ada sangkut paut dengan kepemimpinannya.

Para pemimpin partai-partai, orsospol, LSM dan OKP, membungkus aktifitas politik dengan nuansa keagamaan yang cenderung memicu pertikaian antar etnik, antar sesama warga masyarakat, bahkan sesama penganut agama namun berbeda aliran politik. Dengan demikian rakyat awam sulit membedakan dengan akal rasionya mana kegiatan agama atau politik.
Keberagaman tingkat pendidikan formal, jurusan / profesionalisme dan legalisasi kerancuan profesionalitas dalam kepemimpinan negara ditingkat atas / Kabinet dengan mendudukkan menteri yang tak sesuai dengan bidang keahlian dan keprofesionalan. Ingat konstitusi mengharuskan berdirinya Kabinet Ahli bukan koalisi, aliansi ataupun pelangi, indikator kualitas perilaku kepemimpinan diatas membawa bangsa dan negara dalam krisis kepercayaan dan perangkap dunia ( global trap ) yang sangat parah, konon mendudukkan Indonesia diperingkat 130-an kualitas SDM di dunia.

AKTUALISASI KARAKTER KEPEMIMPINAN

Seraya menjalankan peranannya sebagai negarawan yang dipercaya oleh Rakyat melalui pemilu era reformasi yang semua pihak mengakui sebagai pemilu yang paling demokratis selama Indonesia merdeka, maka para negarawan harus dapat mengimplementasikan “Karakter kepemimpinan KONSTITUSIONAL“. Yakni suatu karakter kepemimpinan yang berdisiplin, demokratis, memiliki sifat hangat dalam bergaul tanpa meninggalkan etika berkomunikasi antarpersona. Suatu karakter kepemimpinan yang memiliki daya dorong bangkitnya INSPIRASI membentuk kerangka kerja pemerintahan yang memahami bahwa undang-undang harus jelas dan cukup spesifik untuk membantu terciptanya bentuk masyarakat yang ideal.
Dengan penuh keterbukaan pemimpin berprestasi menyalin komunikasi dua arah antar sesama pemimpin maupun dengan pengikutnya. Saat inilah pendidikan politik dapat diberikan kepada para pengikut. Seni dasar demokrasi dipersemaikan sejak dini oleh para pemimpin kepada para pengikutnya.
Pemimpin berkarakter tegas dalam menjalankan kewajiban kepemimpinannya., melakukan persuasi dalam membangun konsensus dengan seni mempengaruhi ( persuasif ). Mereka harus mampu memimpin orang untuk bekerja dengan cara yang tepat dan melakukan hal yang tepat.
Efek riak kepemimpinan merembet dan menular ke strata kepemimpinan yang dibawahnya, maka tidak heran bila para elite telah berhenti bertikai kata dan bersilaturahmi, ternyata dibawah dan daerah yang jauh dari rentang kendali organisasi pertikaian baru dimulai. Ini harus dicegah melalui pendidikan politik dengan keteladanan pemimpin yang bijak, mengendalikan lidah dan mulutnya.
Pemimpin berkarakter memiliki gaya emosi yang istimewa, senang bergaul, secara emosi lebih ekspresif dan dramatis, lebih hangat dan lebih sosial, bebas dari prasangka buruk terhadap lawan politik, lebih kooperatif, lebih menyenangkan, lebih apresiatif dan dapat dipercaya, bahkan lebih lembutdaripada pemimpin biasa.
Pemimpin yang berkarakter menonjol positif memiliki kemampuan visioner yang komprehensif terhadap pola-pola yang mencolok ditengah-tengah informasi yang Chaos (kacau dan membingungkan ), chaos yang tercipta secara otomatis akibat perbuatan buruk pemimpin dapat menimbulkan chaos baru yang lebih vandal dan vulgar.
Pemimpin berkarakter mampu memadukan realitas emosi dengan apa yang mereka lihat, sehingga dapat menghasilkan pengaruh yang mendalam bagi pengikutnya dan menjadikan visi yang mampu membangkitkan inspirasi (Bill Newman ; The Ten Laws of Leadership).
Pemimpin berkarakter terbaik memiliki ; “ Kecakapan yang dapat membangkitkan daya cipta orang lain, dan mengilhami mereka untuk bergerak kearah yang dikehendaki “, seperti dikatakan oleh Robert E. Kaplan dari Center for Creative Leadership.
Pemimpin berkarakter terbaik mampu mengalirkan Energi. Seperti Ronald Reagan yang dikenal sebagai, “ Komunikator Ulung “ selama masa kepresidenannya, ia adalah aktor professional. Daya emosi dalam karismanya menonjolkan kemampuan mempengaruhi pendengarnya dalam debat terbuka melawan Walter Mondale.
Sisi negatif pemimpin berkarakter kharismatik adalah mudahnya tersebar emosi kepada kelompok pengikut fanatiknya. Disini berlaku pepatah “ Ikan membusuk dari kepalanya dulu “. Perangai kasar, angkuh dan sembarangan akan mampu menjatuhkan moral kelompoknya. Birgitta Wistrand menyebutnya sebagai ; “ Ketidak mampuan menahan emosi “, ( emotional incontinence ), untuk menularnya emosi merusak yang datangnya dari atas kebawah.

CIRI – CIRI PEMIMPIN BERKARAKTER

Aktualisasi karakter kepemimpinan yang diharapkan bangsa dan negara adalah yang mampu mengantarkan anak bangsa dari ketergantungan (dependency) menuju kemerdekaan ( independency ), selanjutnya menuju kontinum maturasi diri yang komplit ke saling tergantungan
(interdependency), memerlukan pembiasaan melalui contoh keteladanan perilaku para elite politik yang bergerak di eksekutif, yudikatif dan legislatif dalam taman sari demokrasi yang kondusif. Habitat yang dapat dijadikan persemaian karakter pemimpin itu antara lain harus dapat menumbuh suburkan dan mengembangkan perilaku dan sifat-sifat seperti :

Kesadaran diri sendiri (self awareness) jujur terhadap diri sendiri dan terhadap oranglain, jujur terhadap kekuatan diri, kelemahan dan usaha yang tulus untuk memperbaikinya.
Dasarnya seseorang pemimpin cenderung memperlakukan orang lain dalam organisasi atas dasar persamaan derajad, tanpa harus menjilat keatas menyikut kesamping dan menindas ke bawah. Diingatkan oleh Deepak Sethi agar pemimpin berempati terhadap bawahannya secara tulus.
Memiliki rasa ingin tahu dan dapat didekati sehingga orang lain merasa aman dalam menyampaikan umpan balik dan gagasan-gagasan baru secara jujur, lugas dan penuh rasa hormat kepada pemimpinnya.
Bersikap transparan dan mampu menghormati pesaing ( lawan politik ) atau musuh, dan belajar dari mereka dalam situasi kepemimpinan ataupun kondisi bisnis pada umumnya.
Memiliki kecerdasan, cermat dan tangguh sehingga mampu bekerja secara professional keilmuan dalam jabatannya. Hasil pekerjaanya berguna bagi dirinya, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.
Memiliki rasa kehormatan diri ( a sense of personal honour and personal dignity ) dan berdisiplin pribadi, sehingga mampu dan mempunyai rasa tanggungjawab pribadi atas perilaku pribadinya. Tidak seperti saat ini para pemimpin saling lempar ucapan pedas terhadap rekan sejawatnya yang berbeda aliran politiknya.
Memiliki kemampuan berkomunikasi, semangat “ team work “, kreatif, percaya diri, inovatif dan mobilitas.

PENUTUP

Kepemimpinan berkarakter ataupun karakter kepemimpinan merupakan hasil karya pendidikan, pelatihan, talentscouting dan pembiasaan, yang dipadukan dengan sinergi pembelajaran sepanjang hayat, diperkuat oleh daya nalar dan kecerdasan akal budi serta kecerdasan spritual, seraya menyelaraskan dengan irama kehidupan yang sedang berkembang dan berubah cepat tak menentu.
Dengan pemahaman sederhana sesungguhnya pembentukan karakter seseorang menjadi tanggung jawab semua pihak. Karenanya pemerintah, legislatif dan yudikatif bersama rakyat wajib menyediakan persemaan yang subur untuk pengembangan “ Karakter kepemimpinan – pemimpin yang berkarakter “.
Tulisan ini diilhami nasehat bijak Lee Iacocca ; “ Anda punya gagasan cemerlang. Namun jika anda tidak dapat menyampaikan gagasan, gagasan anda tidak akan beranjak kemana pun “. Semoga gagasan sederhana diatas mendapat tempat dihati para pembaca, manakala juga merasa perihatin yang mendalam terhadap segala peristiwa kemasyarakatan, ekonomi, keamanan dan kesejahteraan yang tak kunjung selesai di negara kita. Mari introspeksi dan bangkit maju.
Bersama Pauline H. Peters marilah kita berdoa : “Ya Tuhan, ketika aku salah, beri aku KEKUATAN untuk untuk mengubah; ketika aku benar, permudahlah hidup dengan kebenaran itu. Perteguhlah aku bahwa KEKUASAAN yang ditunjukkan dengan CONTOH PERILAKU akan jauh berdampak lebih mengesankan daripada OTORITAS JABATAN, Amin! “

Posted by Yadie in 03:03:15 | Permalink | No Comments »

Mau Jadi Pemimpin?

Jawaban Terbaik - Dipilih oleh Suara Terbanyak
soekarno : tegas
soeharto : senyum terus
habibie : pinter
gus dur : ga kuat agamanya
mega : cerewet
sby : bijak & kebapakan

Jika rakyat Amerika menuntut presiden mendatang sebagai pribadi yang jujur yang memiliki kepemimpinan yang kuat, apa tuntutan rakyat Indonesia? Karakter macam apa yang kita kehendaki ditunjukkan calon presiden kita pada pemilu 2009?
Semakin dekat pemilu presiden semakin gencar dan hiruk pikuk pendapat yang dilontarkan tentang ciri-ciri presiden Indonesia mendatang. Selama ini lembaga jajak pendapat yang berkiprah di tanah air cukup banyak. Namun, tampaknya hanya 3 yang dapat dipercaya, yaitu LSI, IRI, dan IFES. Demikian pendapat Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia/LSI, pada tanggal 7 Juni 2004, lihat www.suarapembaruan.com. Menurut pendapat saya, jajak pendapat Kompas juga termasuk yang dapat dipercaya.
Aneh tapi nyata, pemilu presiden AS seolah diikuti manusia sejagat. Lihat saja perjalanan Obama dalam rangka kampanye pemilu. Di beberapa negara, beliau diterima seolah-olah sudah menjadi presiden dan disambut masyarakat yang berjejal-jejal di jalan raya. Dari dulu cukup banyak orang Indonesia lebih suka mengikuti hiruk pikuk proses pemilihan kandidat Partai Republik dan Partai Demokrat Amerika dibandingkan dengan pemilu presiden di negeri sendiri.
Apakah perlu sejak sekarang kita memikirkan ciri-ciri karakter presiden kita mendatang? Tampaknya kita mendambakan presiden sebagai a person of strong character, seorang pribadi yang memiliki karakter yang kuat di tengah-tengah masa pancaroba yang belum juga berlalu.
Sebagai bahan refleksi, perkenankan kami memaparkan hasil survei lembaga jajak pendapat AS yang terkenal, GALLUP. Mudah-mudahan lembaga jajak pendapat kita, seperti LSI, IRI, dan IFES serta Kompas melakukan hal serupa sejak sekarang.
Itulah dua ciri utama tuntutan rakyat Amerika terhadap presiden mendatang. Sedangkan, pengalaman di pemerintahan federal Washington tak dianggap penting. Survei Gallup menggunakan dua jenis pertanyaan. Pertama, pertanyaan terbuka dan responden diperbolehkan mengisi dengan kata-kata sendiri. Dan, kedua, pertanyaan tertutup dengan meminta responden memberi rating / menentukan skala penilaian terhadap 16 ciri-ciri yang berbeda. Survei dilakukan pada 26 – 29 Maret 2007 terhadap 1600 responden sebagai anggota panel rumah tangga yang representatif secara nasional.
Sebagai tambahan dua ciri utama itu, warga Amerika menekankan pentingnya kompetensi manajerial. Mayoritas juga mengatakan bahwa adalah esensial presiden mendatang terfokus kepada persatuan nasional. Warga menganggap kurang penting pengalaman kandidat presiden, termasuk apakah ia bekerja dalam pemerintahan federal Washington.
Kualitas terpenting presiden mendatang
Pertanyaan terbuka poll sebagai berikut:
Sekarang, pikirkan ke depan ke tahun pemilihan presiden 2008 – dapatkah Anda katqakan kepada saya dengan kata-katamu sendiri kualitas apa yang paing penting yang Anda inginkan dari presiden mendatang?
”Kejujuran” adalah tema yang muncul paling menonjol dari data — 33% mengatakan mereka menginginkan seorang presiden yang jujur dan berterus terang. Banyak warga Amerika yang memberi komentar tentang kualitas ini, seperti presiden mendatang harus memiliki integritas (10%), memiliki karakter moral yang baik (5%), dapat dipercaya (4%), dan berperilaku terhormat (4%).
Kepemimpinan adalah jawaban yang paling umum pada data, disebut oleh 16% responden.
Sebagai tambahan, 10% mendambakan kompetensi atau kemampuan memerintah secara efektif, 9% menghendaki presiden yang lebih mewakili rakyat daripada kepentingan khusus atau partainya, dan 8% menginginkan presiden mendatang lebih memprioritaskan urusan dalam negeri daripada luar negeri.
26-29 Mar 2007
%
Kejujuran/berterus terang 33
Kepemimpinan yang kuat 16
Kompeten/mampu/dapat memerintah secara efektif 10
Integritas 10
Mendengarkan/mewakili rakyat dan bukan kepentingan partai 9
Mendahulukan AS/fokus kepada isu-isu dalam negeri 8
Kecerdasan 5
Karakter moral yang baik/nilai-nilai keluarga 5
Visi untuk negeri 5
Dapat dipercaya 4
Memenangkan/mengakhiri perang di Irak 4
Berperilaku terhormat 4
Pandangan tentang ekonomi baik 3
Pengalaman kebijakan luar negeri 3
Kristen 3
Pembangun consensus/mempersatukan negeri 2
Konservatif 2
Pandangan tentang isu terorisme baik 1
Pengalaman (umum) 1
Akal sehat 1
Karisma *

Lain-lain 4
Tak ada yang khusus 1
Tak berpendapat 3
* = Kurang dari 0.5%
Catatan: Persentase ditambah menjadi lebih dari 100% karena ada yang menjawab berkali-kali.

Posted by Yadie in 02:59:50 | Permalink | No Comments »

Wednesday, November 25, 2009

Failed TOEFl

Announcement
To all my readers, this is to clarify that TOEFL Program which wished to declare in this month, it is failed. As the Director could effort to bear the special decree to the tim.

It is illegal, if I start this program without any agreement letter from the Director of Foreign Language Academy of Nurdin Hamzah Jambi.

For further information you can see in this blog. Sorry for unscheduled failure.

Suyadi

Posted by Yadie in 03:17:38 | Permalink | No Comments »

Idealist

Cerita tantang Idealists
Kata dasarnya adalah “ideal”, yang memiliki arti pantas, serasi, patut. Dalam kalimat: “Seorang penegak hukum seharusnya juga seorang yang ideal terdap tugasnya dibidang penegakan hukum.” Artinya seorang penegak hukum itu sepatutnya menegakkan hukum karena itu adalah bidang kerja mereka. Seorang penegak hukum, seorang guru, seorang pengacara, seorang pengusaha, seorang presiden, dan profesinya lainnya juga sepatautnya menjadi seorang yang idealis. Artinya mereka harus bekerja secara profesional dibidangnya, bukan sebaliknya malah menjungkirbalikkan profesionalisme dengan mengharapkan imbalan yang luar biasa.
Dalam tulisan saya terdahulu, saya memuat cerita tentang seorang prajurit jujur yang idealis, dengan kejujurannya dia mendapatkan kehormatan berupa diterima di lembaga yang menaungi keamanan di sebuah negeri di abad 12-13an, ketika kerajaan Majapahit masih ada. Meskipun ceritanya terkesan mengada-ada, namun intinya sama-sama kita ketahui.
Idealisme memang tidak subur untuk bisa tumbuh di negeri kita saat ini. Terkesan pesimistik. Memang itulah adanya. Meskipun diyakini ada, keberadaan kaum idealis ini sangat kecil mungkin seperti benda-benda peninggalan kerajaan Majapahit dahulu, terpisah-pisah dan sedikit sekali jumlahnya. Kaum idealis ini seperti benda-benda peninggalan, terkubur jauh di dasar negeri ini. Sehingga sangat sulit sekali mencari jejak para kaum idealis di negeri yang kaya raya ini.
Beberapa sosok idealis sudah menampakan dirinya, justru diperkampungan yang jauh dari modernitas, jauh dari hiruk-pikuk, jauh dari jamahan orang-orang modern yang lambat laun sosok tersebut menghilang ditelan bumi, dan kembali ke dasar negeri ini. Yang entah kapan waktunya (mungkin) akan ditemukan kembali. Kaum idealis yang berkelompok menyuarakan hati nurani kebenaran, justru keberadaannya ditentang oleh kelompok-kelompok yang lebih modern, lebih kuat, bahkan jumlahnya jauh lebih banyak. Keberadaan kaum idealis ini semakin menghilang dengan bermainnya “kuasa uang” di tengah masyarakat. Kuasa uang menjadi senjata pamungkas untuk meng-eliminir keberadaan kaum idealis, maka muncullah berbagai perselingkuhan hampir disegala lini kehidupan berbangsa dan bernegara.
Lalu, muncul si markus, si petrus, si calo, si algojo, dan entah apa lagi namanya yang akan muncul. Yang jadi korban dari ketidak-idealis-an para pilar penegak negeri ini justru rakyat. Rakyat yang seharusnya dilindungi, diayomi, diberikan kemakmuran, diberikan rasa keadilan dalam berbagai hal, e.. malah jadi sasaran empuk.
Begini kisahnya:
Masih ingatkah para pembaca sekalian dengan seorang yang bernama Minah? Sebuah kasus yang diyakini tak ada mafianya (maklum) karena “kering”, muncul ditengah-tengah persoalan penegakan hukum yang semakin rumit. The king, Anggoro yang berkasus besar itu tidak mampu diselesaikan oleh negara yang katanya lebih mengutamakan hukum dan keadilan. Mungkin negara ini lebih kecil jika dibandingkan dengan The real king, Anggoro. Buktinya sang pemimpin negeri ini pun belum mampu mengambil tindakan yang sepatutnya dilakukan. Pemimpin yang tidak idealis hanya akan menyengsarakan rakyat. Itulah yang terjadi dengan kisah Mbah Minah.
Mbah Minah, terpaksa berhutang kepada tetangga kanan kiri hanya untuk memenuhi panggilan pihak kepolisian. Hutangnya itu untuk bayar angkot demi kelancaran proses penyidikan sebab dia merasa bertanggung jawab karena mengambil tiga buah kakao yang harganya hanya Rp.1500,-. Tragisnya, buah kakao itu bukan untuk dijual atau dimakan, tapi hanya ingin dia jadikan bibit. Tahu apa yang terjadi? Pengadilan yang terkesan lebih memihak perusahaan itu menjatuhkan hukuman 45 hari penjara. Sebagai pribadi yang merasa tindakan ini benar. Penegakan hukum untuk semua orang. Tanpa terkecuali Minah.
Tapi hati nurani ini berkata: bagaimana dengan kasus Anggoro, Aggodo, etc yang notabene kasusnya para raksasa. Mungkin bila kasus raksasa ini tidak muncul berbarengan dengan kasusnya Minah (kasusnya orang susah), mungkin rakyat akan berpikir seribu kali untuk berbuat salah meskipun hanya mencuri ayam, pupuk, atau sandal tetangga. Sebab akan hukum akan berbicara sama rata, sama rasa, dan sama adilnya. Yah, disinilah keadilan itu diuji. Dua buah kasus yang berbeda bobot itu seharusnya tidak membuat para penegak keadilan berbeda prinsip. Harus satu prnsip.
Tapi sebuah pertanyaan yang pesimistis kini tumbuh di hati setiap warga negeri ini: apakah mungkin MA, MK, POLRI, serta KPK akan mampu menyelesaikan permasalahan negeri ini? “Hanya Tuhanlah yang tahu.” Itu akan menjadi jawaban yang sedikit menghibur rakyat khususnya bagi kita yang masih mempercayai adanya tuhan. Tapi saya yakin Tuhan akan memihak kepada kita, seandainya kita benar-benar ingin berbuat baik. Seandainya. Apabila. Jika. Kalau. Dan sederet kata pengandaian lainnya. Ujung-ujungnya rakyat lelah menanti, dan membiarkannya hilang kembali ke dasar bumi negeri ini. Dan menunggu suatu saat diketemukan kembali seperti peninggalan-peninggalan purba kala yang tercecer. Terus bergulir seperti itu. Terus dan terus. Dah ah, capek!

Posted by Yadie in 03:08:22 | Permalink | No Comments »

Tuesday, September 1, 2009

Dikti

Pendidikan Pascasarjana Profesi      
Ditulis oleh Irwandi   
Friday, 21 August 2009

Sebanyak 88 dosen politeknik Indonesia terseleksi akan mengikuti program Double Degree Kerjasama Indonesia dan Perancis (DDIP) 2009.

Program pascasarjana profesi ini khusus diperuntukkan bagi dosen politeknik. Tahun pertama, kuliah dilangsungkan di perguruan tinggi penyelenggara di Indonesia. Berikutnya, tahun kedua dilakukan di perguruan tinggi Perancis. Bagi yang lulus, mendapatkan dua ijazah sekaligus dari masing-masing perguruan tinggi.

Dosen terseleksi terdiri dari 30 orang dari Program Studi Teknik Elektro; 20 orang dari Program Studi Teknik Mesin; 12 orang dari Program Studi Teknik Sipil; 8 orang dari Program Studi Pertanian dan 16 orang dari Program Studi Kajian Pariwisata.

 “Pascasarjana profesi ini untuk menjawab perintah Undang-Undang No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen bahwa semua Dosen, termasuk di Politeknik harus memiliki kualifikasi minimal magister, sekaligus mengakomodir kompetensi utama mereka yang berbasis vokasi. Perancis memiliki Modalitas magister of Profesional studies yang cukup baik”, kata Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D  dalam acara Pembekalan Program DDIP 2009 (20/08)

Bapak Dominique Dubois, Atase kerjasama Ilmiah dan Teknik Perancis berkesempatan hadir dan memberikan pengantar yang sangat atraktif tentang sistem dan dinamika pendidikan di Perancis. Hadir juga bapak Prof. Dr. Muchlas Samani, Direktur Ketenagaan Dikti, dan Drs. Istri Hardiyati, MM, Kasubdit Pengembangan Ketenagaan, Ditnaga, Dikti.

Para dosen yang terpilih akan diperlakukan istimewa selama mengikuti pendidikan di Perancis, kata bapak Dominique. ‘Akan dijemput semenjak kedatangan pertama mereka di Bandara, dicarikan kereta api terbaik dan diantar sampai ke dormitory”, tambah bapak Doiminique.

Program ini didanai dengan dana pemerintah Indonesia dan pemerintah Perancis. Pemerintah Indonesia mendanai pendidikan di Indonesia berupa Beasiswa Pendidikan Pascasarjana (BPPS) dan pendidikan di Perancis berupa beasiswa luar negeri (Living cost dan airfare). Pemerintah Perancis mendanai tuition fee, asuransi, dan pendidikan bahasa Perancis di Indonesia. 

Tahun 2009 ini ada 4 perguruan tinggi penyelenggara yaitu 1) Universitas Indonesia dengan melibatkan Program Studi: Teknik Elektro, Teknik Mesin, dan Teknik Sipil; 2) Institut Pertanian Bogor dengan melibatkan Program Studi Profesi Industri Kecil dan Menengah; 3) Universitas Gadja Mada dengan melibatkan Program Studi Administrasi Bisnis; 4) Universitas Udayana dengna melibatkan Program Studi Pariwisata. Semoga sukses. 

Recommend this article…
Terakhir Diperbaharui ( Friday, 21 August 2009 )

Posted by Yadie in 02:53:47 | Permalink | No Comments »